Mourinho Bantah Terbebani Target Juara Liga Champions di Periode Kedua Bersama Real Madrid
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, menegaskan tidak ada utang prestasi kepada klub pada masa kepelatihan keduanya, meski trofi Si Kuping Besar menjadi satu-satunya yang lolos dari genggaman pada periode pertama.
- Kekalahan perdana dari Real Betis di LaLiga menjadi ujian awal konsistensi skuad asuhannya, yang menurut Mourinho membutuhkan stabilitas untuk meraih hasil maksimal.
- Sementara itu, Kylian Mbappe membantah adanya masalah internal di ruang ganti, menegaskan atmosfer tim tidak berubah meski ada pergantian pelatih.

Jose Mourinho menepis anggapan bahwa dirinya berada di bawah tekanan untuk mempersembahkan gelar Liga Champions pada masa kepelatihan keduanya di Real Madrid. Jelang laga perdana fase grup melawan Inter Milan di Santiago Bernabeu, Selasa (8/9/2026) dini hari WIB, pelatih asal Portugal itu menegaskan bahwa misinya saat ini terpisah dari capaian periode pertamanya pada 2010โ2013.
"Tidak, ini dua periode yang berbeda," ujar Mourinho saat ditanya apakah ia merasa berutang kepada klub. "Saat saya pergi pada 2013, kami memenangkan apa yang seharusnya dimenangkan dan kalah dari yang seharusnya dikalahkan. Kami sudah memberikan segalanya. Apa yang harus saya lakukan sekarang tidak ada hubungannya dengan masa lalu."
Pernyataan itu muncul di tengah sorotan tajam terhadap Los Blancos yang musim ini belum juga meraih trofi mayor setelah dua musim paceklik, bersamaan dengan kedatangan Kylian Mbappe. Padahal, pada periode pertama Mourinho, Real Madrid nyaris selalu tersingkir di babak perempat final atau semifinal Liga Champions. Kini, dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, klub telah mengoleksi enam gelar juara Eropa.
"Pada 2010, kami bahkan tidak mencapai perempat final Liga Champions dan sudah lama sekali tidak bermain di semifinal. Sekarang kami telah memenangkan enam Liga Champions dalam sedikit lebih dari satu dekade," kenangnya, memberi perspektif tentang perubahan status klub.
Fokus utama publik tertuju pada bagaimana Real Madrid bangkit setelah kekalahan perdana di era kedua Mourinho, yakni 0-1 dari Real Betis di LaLiga, Jumat (4/9/2026) lalu. Kekalahan itu menjadi ujian awal konsistensi skuad asuhannya, yang menurut Mourinho membutuhkan stabilitas untuk meraih hasil maksimal.
"Kami ingin memenangkan setiap pertandingan, setiap kompetisi," tegasnya. "Tetapi Anda harus bekerja untuk mencapai stabilitas. Stabilitas... Struktur... Jadi Real Madrid perlu mencapai stabilitas yang sangat penting untuk mencapai sesuatu yang hebat. Tetapi Real Madrid tetaplah Real Madrid, Anda harus menang di sini apa pun yang terjadi."
Di tengah konferensi pers yang berlangsung panjang, Mourinho tampak lebih santai sebelum giliran Kylian Mbappe yang menghadapi rentetan pertanyaan soal hubungannya dengan Vinicius Junior dan atmosfer ruang ganti. Mbappe dengan tegas membantah adanya perubahan negatif dibanding musim lalu.
"Apa maksudnya perbaikan di ruang ganti?" jawab Mbappe ketika ditanya apakah ada perubahan dari tahun lalu. "Apakah Anda merasa ada yang tidak beres tahun lalu? Tidak, sama saja seperti tahun lalu. Memang benar kami memiliki pelatih yang berbeda, tetapi itu sama saja."
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika di internal Real Madrid selalu menarik dicermati, mengingat banyak penggemar di tanah air yang mengikuti perkembangan Liga Champions. Tekanan pada Mourinho dan Mbappe menjadi cermin bagaimana klub sebesar Real Madrid mengelola ekspektasi publik yang nyaris tanpa kompromi.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Mourinho mampu membangun kembali stabilitas yang ia canangkan, atau justru kembali gagal di panggung terbesar Eropa seperti yang pernah ia alami? Jawabannya akan mulai terlihat saat Real Madrid berhadapan dengan Inter Milan, dan seterusnya sepanjang musim.



