AirBorneo Garap Rute Singapura-Kuching, Tiket Chinese New Year Ludes 80 Persen
Baca dalam 60 detik
- Maskapai milik Pemerintah Sarawak, AirBorneo, mencatat okupansi 80 persen untuk penerbangan Singapura-Kuching pada periode Imlek 2027, hanya sepuluh hari setelah tiket dijual.
- Ekspansi internasional ini menjadi batu loncatan AirBorneo menuju pasar ASEAN dan China selatan, dengan target armada lima jet pada akhir tahun.
- Langkah ini memperkuat posisi Sarawak dalam mengelola konektivitas udara mandiri, sejalan dengan ambisi otonomi lebih besar di Federasi Malaysia.

Maskapai pelat merah asal Sarawak, AirBorneo Airways, mencatat lonjakan permintaan signifikan pada rute perdananya Singapura–Kuching. Tiket untuk periode Tahun Baru Imlek 2027 yang baru dirilis 13 Juli lalu sudah terisi sekitar 80 persen, menurut pernyataan CEO Megat Ardian Aminuddin di sela konferensi pers di Singapura, Kamis (23/7).
Angka ini menjadi indikator awal bahwa rute yang baru beroperasi sejak 22 Juli itu langsung mendapat sambutan hangat, terutama dari kalangan perantau dan pelancong lintas batas. Megat menargetkan tingkat keterisian 80 persen sebagai standar keberhasilan awal, dan ia optimistis permintaan akan terus tumbuh seiring penambahan frekuensi penerbangan.
AirBorneo mengoperasikan satu kali terbang per hari antara Kuching dan Singapura menggunakan Boeing 737-800, bersamaan dengan rute Kuching–Kuala Lumpur yang diluncurkan dua hari sebelumnya. Sebelum kehadiran AirBorneo, hanya Scoot dan AirAsia yang melayani rute langsung tersebut. Kini, persaingan di jalur Singapura–Kuching kian ketat, membawa angin segar bagi konsumen yang selama ini mengeluhkan harga tiket tinggi.
Ekspansi AirBorneo tidak berhenti di Singapura. Perdana Menteri Sarawak Abang Johari Openg mengungkapkan bahwa maskapai akan segera terbang ke Jakarta dalam dua bulan ke depan setelah mendapatkan alokasi slot di Bandara Soekarno-Hatta. Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar Sarawak membangun “jembatan” ekonomi dengan dunia, sebagaimana analogi yang disampaikan Abang Johari: Jepang membangun Japan Airlines pasca-Perang Dunia II untuk menjadi negara industri maju.
“Setelah memiliki maskapai nasional, Jepang menjadi negara industri dan maju lebih dulu dibanding negara Asia lain. Belajar dari itu, penting bagi kami menghubungkan ekonomi dengan dunia dan mitra dagang. Kami harus punya jaringan logistik sendiri untuk mengekspor barang dan jasa,” ujar Abang Johari saat peluncuran rute Kuala Lumpur.
AirBorneo mengusung konsep full-service carrier yang menyasar pebisnis dan penumpang yang mengutamakan kenyamanan. Megat menyebutkan bahwa penambahan frekuensi menjadi tiga kali sehari akan memungkinkan pelaku bisnis melakukan perjalanan pulang-pergi dalam sehari. Ini menjadi nilai tambah bagi konektivitas ekonomi antara Sarawak dan pusat-pusat bisnis regional.
Di balik ambisi besar itu, AirBorneo masih menghadapi tantangan operasional. Sejumlah laporan sebelumnya mencatat harga tiket yang mahal, perubahan jadwal mendadak, dan pembatalan penerbangan yang memicu keluhan penumpang. Maskapai mengaitkan gangguan tersebut dengan pekerjaan teknis tak terjadwal, perawatan rutin, serta keterbatasan kru. Para pengamat menilai bahwa jika AirBorneo mampu memperbaiki komunikasi publik dan efisiensi operasional, kesuksesannya dapat memperkuat tuntutan Sarawak atas otonomi lebih besar dalam Federasi Malaysia.
Pembelian AirBorneo dari Malaysia Aviation Group pada Februari tahun lalu, bersama dengan pengambilalihan pelabuhan dan bank, menjadi proyek unggulan Sarawak dalam mendorong kemandirian ekonomi. Dengan rute internasional yang mulai menggeliat, pertanyaan selanjutnya adalah seberapa cepat maskapai ini bisa mengatasi masalah operasional dan mempertahankan kepercayaan pelanggan di tengah persaingan ketat dengan pemain mapan seperti AirAsia dan Scoot.



