Krisis Demografi Jepang: Koshien University Berhenti Menerima Mahasiswa Baru
Baca dalam 60 detik
- Koshien University di Takarazuka, Jepang, mengumumkan penghentian penerimaan mahasiswa baru mulai tahun akademik depan akibat kekurangan pendaftar.
- Jumlah mahasiswa saat ini hanya 270 orang, sekitar 30% dari kapasitas, dengan defisit yang membengkak karena populasi usia 18 tahun terus menurun.
- Keputusan ini mencerminkan tantangan serius sistem pendidikan tinggi Jepang, yang juga menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam mengelola bonus demografi.

Universitas Koshien di Takarazuka, Prefektur Hyogo, Jepang, mengumumkan penghentian penerimaan mahasiswa baru mulai tahun akademik 2025. Keputusan ini diambil setelah lembaga pendidikan swasta tersebut terus mengalami kekurangan jumlah pendaftar selama beberapa tahun terakhir, diperparah oleh menurunnya populasi remaja usia 18 tahun di Jepang.
Didirikan pada 1967, Koshien University saat ini hanya memiliki dua fakultas, yakni Gizi dan Psikologi, dengan total mahasiswa aktif sebanyak 270 orang. Angka tersebut hanya sekitar 30 persen dari kapasitas ideal kampus. Defisit operasional yang terus membengkak membuat pengelola yayasan Koshiengakuin mengambil langkah drastis ini.
Perwakilan yayasan menyatakan bahwa penurunan jumlah pendaftar semakin tajam selama pandemi Covid-19 dan tidak kunjung pulih setelahnya. โKami mengambil keputusan sulit ini setelah mempertimbangkan keberlanjutan pendidikan,โ ujarnya. Yayasan berkomitmen tetap memberikan pendidikan berkualitas hingga seluruh mahasiswa yang ada lulus, serta memastikan mereka tidak dirugikan dalam pencarian kerja atau aktivitas lainnya.
Meski demikian, yayasan menegaskan bahwa sekolah-sekolah yang berada di bawah naungannya, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, tidak terpengaruh oleh keputusan ini dan tetap beroperasi normal.
Fenomena ini bukanlah kasus terisolasi. Jepang telah lama bergulat dengan krisis demografi, di mana angka kelahiran terus menurun dan populasi menua. Banyak universitas swasta kecil dan menengah menghadapi nasib serupa. Data Kementerian Pendidikan Jepang menunjukkan bahwa lebih dari 40 persen universitas swasta tidak mencapai target penerimaan mahasiswa pada tahun 2023.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat penting. Meskipun saat ini Indonesia masih menikmati bonus demografi dengan mayoritas penduduk usia produktif, tren penurunan angka kelahiran mulai terlihat di beberapa daerah. Tanpa antisipasi yang matang, bukan tidak mungkin sistem pendidikan tinggi Indonesia akan menghadapi tantangan serupa dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Pemerintah dan perguruan tinggi perlu mulai memikirkan diversifikasi sumber pendanaan, peningkatan kualitas, serta adaptasi terhadap perubahan demografi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: apakah universitas-universitas lain di Jepang akan mengikuti langkah Koshien? Ataukah akan ada kebijakan baru dari pemerintah Jepang untuk menyelamatkan sektor pendidikan tinggi dari krisis demografi? Jawabannya akan menentukan masa depan sistem pendidikan di Negeri Sakura sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain.



