Coforge Raih Kontrak AI Ratusan Juta Dolar dari Klien Eropa, Tanda Adopsi AI Skala Besar Makin Nyata
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan IT India Coforge memenangkan kontrak lima tahun senilai lebih dari US$230 juta dari klien Eropa untuk transformasi bisnis berbasis AI.
- Kesepakatan ini menggabungkan platform low-code, otomatisasi AI, dan pengembangan perangkat lunak bertenaga AI untuk modernisasi operasional klien.
- Kontrak tersebut menandai pergeseran dari proyek percontohan AI ke adopsi skala enterprise, dengan potensi dampak pada pasar layanan IT global termasuk Indonesia.

Perusahaan jasa teknologi informasi asal India, Coforge, mengumumkan perolehan kontrak senilai lebih dari US$230 juta dari klien utama di Eropa untuk program transformasi bisnis berbasis kecerdasan buatan (AI). Kontrak berdurasi lima tahun ini menjadi salah satu kesepakatan transformasi AI terbesar yang pernah diraih perusahaan di kawasan Eropa, mencerminkan percepatan adopsi AI di tingkat korporasi global.
Dalam pengumuman yang disampaikan melalui bursa efek India, Jumat (24/7), Coforge menyatakan proyek ini akan mengintegrasikan platform low-code/no-code, otomatisasi bertenaga AI, serta pengembangan perangkat lunak yang didukung AI untuk memodernisasi operasional bisnis klien. Meski identitas klien tidak diungkap, perusahaan menegaskan bahwa proyek ini diharapkan mampu meningkatkan pengambilan keputusan, produktivitas, serta mempercepat layanan dengan mengurangi pekerjaan manual.
Kontrak ini menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan-perusahaan besar di Eropa mulai bergerak dari tahap uji coba AI menuju penerapan skala penuh. John Speight, Presiden Coforge sekaligus pimpinan bisnis Eropa, menyatakan bahwa kesepakatan ini mencerminkan permintaan yang terus meningkat untuk transformasi AI di tingkat enterprise. โOrganisasi kini tidak lagi sekadar menjajaki AI, tetapi benar-benar mengintegrasikannya ke dalam inti operasional mereka,โ ujarnya dalam pernyataan resmi.
Bagi Indonesia, tren ini membawa implikasi strategis. Sebagai salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi tujuan ekspansi perusahaan IT global seperti Coforge. Namun, kesenjangan infrastruktur digital dan ketersediaan talenta AI masih menjadi tantangan. Jika Indonesia ingin menarik investasi serupa, diperlukan kebijakan yang mendorong pengembangan ekosistem AI, termasuk insentif riset dan pendidikan vokasi berbasis teknologi.
Kenaikan harga saham Coforge sebesar 1,72% setelah pengumuman kontrak menunjukkan optimisme pasar terhadap prospek pendapatan perusahaan. Analis menilai bahwa kesepakatan ini dapat membuka peluang bagi Coforge untuk mendapatkan kontrak serupa dari klien Eropa lainnya, terutama di sektor keuangan, ritel, dan manufaktur yang tengah gencar melakukan digitalisasi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah perusahaan teknologi dari negara berkembang seperti India mampu mempertahankan momentum ini di tengah persaingan ketat dengan raksasa global seperti Accenture, IBM, dan TCS. Bagi Indonesia, kisah Coforge bisa menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana membangun kapabilitas AI yang kompetitif di pasar global.



