Sup Kepiting Mars: Simbol Ambisi Riset China yang Bikin Washington Gelisah
Baca dalam 60 detik
- Seorang peneliti China bercita-cita menyajikan sup kepiting pedas bagi astronot di Mars, memicu kekhawatiran di Senat AS tentang dominasi sains China.
- China diperkirakan menguasai 30% belanja riset global pada 2024, melampaui AS untuk pertama kalinya, sementara Washington terbelah soal strategi menghadapinya.
- Pemangkasan dana riset oleh pemerintahan Trump dikhawatirkan melemahkan kemampuan AS bersaing, terutama di bidang AI dan bioteknologi.

Visi seorang peneliti muda China yang membayangkan sup kepiting pedas disajikan untuk astronot di Mars menjadi simbol kegelisahan Washington terhadap ambisi ilmiah Beijing. Dalam sidang Senat AS pekan lalu, gambaran itu dipakai untuk mengilustrasikan betapa seriusnya China mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi—dan seberapa besar AS mungkin tertinggal.
Drew Endy, profesor asosiatif di Stanford University yang juga direktur strategi bio dan kepemimpinan di Hoover Institution, menceritakan pertemuannya dengan seorang peneliti China berusia 20 tahun dari Shanghai di sebuah konferensi ilmiah di Paris. Peneliti itu, yang mengenakan kostum kepiting merah besar, memaparkan riset tentang enzim yang bisa memecah cangkang kepiting untuk digunakan kembali dalam ekonomi sirkular di Mars. Ia berasumsi astronot China akan tiba di Planet Merah dan pasti ingin menyantap sup kepiting pedas—cangkangnya kemudian diolah menjadi bahan lain, termasuk kain. “Itulah yang kita hadapi,” kata Endy. “Suasananya positif di Beijing.”
Anekdot itu menangkap inti kekhawatiran dalam sidang bertajuk “Measuring What Matters: Science, Standards, and Strategic Competition”. Di satu sisi, Partai Republik dan Demokrat sepakat bahwa China adalah tantangan ilmiah dan teknologi yang tangguh. Namun, mereka terbelah soal apakah pemotongan dana riset oleh Presiden Donald Trump justru melemahkan kemampuan AS merespons.
Senator Ted Budd, ketua subkomite sains, manufaktur, dan daya saing, menyebut China telah mencuri kekayaan intelektual dan menerapkan praktik ekonomi tidak adil. “Kita berada di titik infleksi kritis jika ingin mempertahankan keunggulan,” ujarnya. Namun, Demokrat berpendapat bahwa kebijakan Trump—seperti pemecatan anggota National Science Board dan pemangkasan dana riset—justru menggerogoti fondasi kompetitivitas AS. Julia Phillips, mantan anggota dewan tersebut yang dipecat Trump, memperingatkan krisis tenaga kerja STEM dan mendesak agar komitmen pendanaan riset dipenuhi.
Ketegangan ini makin terasa di bidang kecerdasan buatan. Perusahaan China seperti Moonshot AI dan Alibaba Group Holding menunjukkan kemajuan pesat, mempersempit jarak dengan pengembang AS. Washington merespons dengan membatasi akses China ke semikonduktor canggih dan teknologi sensitif lainnya, serta mengurangi ketergantungan pada rantai pasok China. Namun, sidang pekan lalu mengindikasikan bahwa membendung China hanyalah satu sisi dari persaingan. Pertanyaan yang tak kalah penting: apakah AS cukup berinvestasi pada kemampuan sainsnya sendiri?
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi strategisnya di antara dua raksasa. Ketika AS dan China berlomba dalam riset antariksa dan AI, Indonesia perlu memperkuat investasi riset dalam negeri agar tidak sekadar menjadi pasar. Pertanyaan yang mengemuka: akankah Indonesia memanfaatkan persaingan ini untuk mempercepat alih teknologi, atau justru terjebak dalam ketergantungan baru?



