Prestasi Bersejarah: Dua Matematikawan China Raih Fields Medal, Pecahkan Teka-Teki Abad ke-20
Baca dalam 60 detik
- Hong Wang dan Yu Deng menjadi matematikawan China pertama yang meraih Fields Medal, setara Nobel di bidang matematika, untuk pemecahan masalah yang belum terpecahkan selama lebih dari satu abad.
- Wang, perempuan ketiga yang mendapat penghargaan ini, berhasil menjawab konjektur Kakeya (1917) tentang luas minimum sapuan jarum di ruang tiga dimensi, sementara Deng memecahkan Problem Keenam Hilbert (1900) tentang gerak partikel gas.
- Pencapaian ini memicu euforia di media sosial China dan menjadi simbol kebangkitan riset fundamental Asia, sekaligus mengingatkan Indonesia akan pentingnya investasi pada ilmu dasar dan matematika.

Dua akademisi asal China, Hong Wang dan Yu Deng, untuk pertama kalinya dalam sejarah membawa pulang Fields Medal—penghargaan tertinggi di dunia matematika yang kerap disetarakan dengan Nobel. Mereka berbagi penghargaan dengan John Pardon (AS) dan Jacob Tsimerman (Kanada), masing-masing menerima 15.000 dolar Kanada (sekitar Rp170 juta). Pengumuman ini disambut gemuruh di jagat maya China, dengan tagar "Fields Medal" dan "Matematikawan China Pertama" meraup jutaan tayangan di Weibo dan Rednote.
Wang, 35 tahun, yang mengajar di Amerika Serikat dan Prancis, menjadi perempuan ketiga yang menerima medali ini. Ia bersama koleganya Josh Zahl berhasil memecahkan konjektur Kakeya—teka-teki yang diajukan matematikawan Jepang Soichi Kakeya pada 1917: jika sebuah pensil diputar 360 derajat, berapa luas area terkecil yang disapunya? Alih-alih di permukaan datar, Wang dan Zahl menganalisis masalah tersebut dengan asumsi pensil melayang di ruang tiga dimensi. Hasil studi mereka terbit tahun lalu dan langsung diakui sebagai terobosan fundamental dalam analisis harmonik, cabang matematika yang mempelajari pergerakan gelombang.
Sementara itu, Deng, 37 tahun, profesor di University of Chicago, dihormati karena menyelesaikan Problem Keenam Hilbert—pertanyaan yang diajukan matematikawan Jerman David Hilbert pada 1900 tentang bagaimana perilaku suatu sistem (keseluruhan) dapat dihitung dari pergerakan partikel-partikel individualnya. Deng memecahkan masalah ini dengan menelaah perilaku gas, membuka jalan bagi pemahaman yang lebih dalam tentang fisika statistik dan mekanika kuantum. "Benar-benar kehormatan besar namaku tercantum setelah para matematikawan hebat yang selalu kukagumi," ujarnya.
Kemenangan ini bukan sekadar prestasi individu. Shing-Tung Yau, peraih Fields Medal pertama dari etnis China, menyebutnya sebagai "mimpi yang telah dinanti puluhan tahun oleh komunitas matematika China". Media China pun memberitakan secara ekstensif, mulai dari latar belakang pendidikan hingga hobi kedua ilmuwan, menandai kebanggaan nasional yang melampaui ranah akademis.
Bagi Indonesia, pencapaian ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi pada riset fundamental, khususnya matematika. Di tengah gempuran kecerdasan buatan yang mulai menyaingi kemampuan komputasi manusia, Fields Medal justru diberikan kepada pemecahan masalah-masalah klasik yang membutuhkan intuisi dan kreativitas murni. Hal ini menegaskan bahwa matematika—dan sains dasar pada umumnya—tetap menjadi fondasi inovasi jangka panjang. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah Indonesia siap meniru langkah China dengan memberikan ruang dan dukungan bagi para matematikawan mudanya untuk mengejar terobosan serupa?



