El Nino Ancam Sri Lanka: Kekeringan Ekstrem Disusul Banjir Besar
Baca dalam 60 detik
- Menteri Lingkungan Sri Lanka memperingatkan fenomena El Nino akan memicu kekeringan parah hingga akhir September, disusul banjir besar saat musim hujan Oktober.
- Pemerintah menyiapkan cadangan air irigasi dan air minum, serta menggeser jadwal tanam padi dua minggu lebih awal untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.
- El Nino tahun ini diperkirakan mengubah pola angin dan curah hujan global, sementara Sri Lanka masih menghitung potensi kerugian ekonomi dan mengaktifkan gugus tugas mitigasi.

Sri Lanka tengah bersiap menghadapi dua bencana alam yang saling bertolak belakang: kekeringan panjang yang akan segera terjadi, diikuti banjir bandang saat musim hujan tiba. Peringatan ini disampaikan langsung oleh Menteri Lingkungan Dhammika Patabendi, yang menyebut El Nino sebagai pemicu utama perubahan cuaca ekstrem di negara kepulauan berpenduduk 22 juta jiwa itu.
Fenomena El Nino, yang memanaskan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator bagian tengah dan timur, diprediksi akan mengubah pola angin dan curah hujan secara signifikan. Patabendi mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini tengah mengelola cadangan air untuk irigasi dan air minum, mengingat musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir September. Masyarakat pun diminta menggunakan air bersih secara hemat karena kelangkaan diprediksi terjadi dalam dua bulan ke depan.
Namun, setelah kekeringan, giliran banjir yang mengancam. Patabendi menjelaskan bahwa musim hujan timur laut yang dimulai pada Oktober berpotensi menyebabkan โbanjir besarโ di berbagai wilayah. Untuk mengantisipasi kerusakan tanaman pangan, petani diimbau memulai musim tanam padi utama pada awal Oktoberโsekitar dua pekan lebih cepat dari jadwal normal. โKita perlu memulai penanaman lebih awal dari biasanya dan memastikan pengelolaan banjir yang lebih baik untuk melindungi tanaman, terutama padi,โ ujar Patabendi.
Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim global meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem. El Nino tahun ini menjadi pengingat bahwa negara-negara tropis seperti Sri Lanka dan Indonesia harus memperkuat sistem peringatan dini serta infrastruktur pengelolaan air dan bencana. Bagi Indonesia, pola serupa juga perlu diwaspadai karena posisi geografis yang berdekatan dan ketergantungan pada sektor pertanian serta perikanan.
Patabendi menambahkan bahwa hujan deras berpotensi memicu tanah longsor di kawasan pegunungan, seperti yang terjadi pada November lalu akibat Siklon Ditwah. Bencana tersebut hampir melumpuhkan seluruh pulau dan menyebabkan kerusakan parah. Pemerintah Sri Lanka saat ini masih menghitung potensi kerugian ekonomi dari dampak El Nino, namun telah mengaktifkan gugus tugas kementerian untuk mengoordinasikan langkah mitigasi.
Dengan cadangan waduk yang hanya 57%, pemerintah berencana menghemat air dan menggunakan tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan listrik pada siang hari. Langkah ini diambil untuk menjaga ketersediaan air irigasi dan air minum selama musim kemarau. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah langkah-langkah tersebut cukup untuk menghindari krisis pangan dan air bersih di Sri Lanka, dan bagaimana negara-negara tetangga seperti Indonesia dapat belajar dari pengalaman ini?


