Prabowo: Ada Skenario Terencana Guncang Ekonomi, Ramalan Kolaps Terus Meleset
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menyoroti adanya narasi pesimistis yang rutin menebar prediksi kehancuran ekonomi Indonesia setiap bulan.
- Dalam pidato di Harlah PKB, Prabowo menganalogikan situasi ini dengan suporter sepak bola yang justru mencemooh timnya sendiri.
- Pernyataan ini menegaskan kekesalan pemerintah terhadap kampanye negatif yang dinilai tidak berdasar dan kontraproduktif.

Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan bahwa ada upaya sistematis untuk menggoyang stabilitas Indonesia melalui kampanye pesimistis yang berulang setiap bulan. Dalam pidatonya pada peringatan Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Kamis (23/7), ia menyindir pihak-pihak yang terus memprediksi Indonesia akan kolaps, namun kenyataannya tak pernah terbukti.
"Kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah, Indonesia akan kolaps bulan April akan kolaps, bulan Mei akan kolaps, Mei lewat enggak kolaps, Juni akan kolaps, Juli akan kolaps, tiap bulan akan kolaps," ujar Prabowo di hadapan ribuan kader PKB. Pernyataan ini disambut tepuk tangan hadirin yang hadir di acara tersebut.
Prabowo lantas menggunakan analogi pertandingan sepak bola untuk menggambarkan sikap yang ia anggap tidak masuk akal. Menurutnya, seorang suporter sejati seharusnya tetap mendukung tim kesayangannya meski dalam situasi sulit, bukan malah mencemooh. "Ini supporter macam apa, gendeng itu," katanya dengan nada kesal.
Ini bukan pertama kalinya Prabowo menyinggung soal prediksi negatif terhadap ekonomi Indonesia. Pekan sebelumnya, dalam acara panen raya bersama TNI di Malang, Jumat (17/7), ia juga menyinggung soal ramalan yang selalu meleset. "Tiap bulan Indonesia akan collapse, Juni collapse, ini udah Juli. Juli collapse, collapse saja mikirnya, mikir collapse ya. Biarin aja," ucapnya saat itu.
Pernyataan Prabowo ini muncul di tengah berbagai tantangan ekonomi global, seperti fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian pasar keuangan. Namun, data terakhir menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di kisaran 5 persen, dengan inflasi terkendali dan cadangan devisa yang cukup. Analis menilai bahwa narasi pesimistis yang terus digaungkan bisa mempengaruhi kepercayaan investor dan konsumen, meski fundamental ekonomi sebenarnya masih kuat.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Andi Yusuf, menilai bahwa pernyataan Prabowo ini merupakan bentuk komunikasi politik untuk membangun optimisme di tengah masyarakat. "Presiden ingin menunjukkan bahwa pemerintah tidak gentar dengan kritik yang tidak konstruktif. Namun, ia juga perlu memberikan data konkret agar pesannya lebih meyakinkan," ujar Andi.
Ke depan, pemerintah diharapkan terus mengklarifikasi isu-isu negatif dengan bukti empiris, sekaligus menjaga momentum pertumbuhan. Pertanyaannya, akankah kampanye pesimistis ini mereda seiring perbaikan indikator ekonomi, atau justru semakin kencang menjelang tahun politik?



