Travis Scott Bocorkan Album Baru: Terinspirasi Oasis hingga Daft Punk, Target Oscar di Depan Mata
Baca dalam 60 detik
- Rapper Travis Scott mengerjakan album baru yang terinspirasi dari Oasis, Van Halen, dan Daft Punk, menjanjikan perubahan sonik radikal dari karya sebelumnya.
- Album ini akan mengedepankan pengalaman pertunjukan teatrikal nyata di tengah kekhawatirannya terhadap dominasi konten digital di industri hiburan.
- Melalui perjanjian dengan Paramount, Scott memperluas ambisinya ke perfilman dan mengincar penghargaan Oscar, menandai lompatan besar kariernya.

Travis Scott tengah menyiapkan album baru yang disebutnya akan menjadi gebrakan sonik paling berani dalam kariernya. Pelantun "Sicko Mode" itu mengaku terinspirasi oleh band rock legendaris Oasis, Van Halen, hingga duo elektronik Daft Punk, serta grup funk Parliament, dalam proses kreatif album yang belum diberi judul tersebut.
Dalam wawancara dengan Variety, Scott yang saat ini juga membintangi film The Odyssey garapan Christopher Nolan menegaskan bahwa musik tetap menjadi prioritas utamanya. "Saya di sini untuk menaklukkan diri saya sebagai seorang seniman. Dalam misi sampingan yang keren ini, saya tidak pernah melupakan tujuan utama," ujarnya. Ia mengaku terus mendorong batas sonik untuk menciptakan sesuatu yang belum pernah ia buat sebelumnya.
Yang menarik, Scott mengungkapkan bahwa Utopia sejatinya dirancang sebagai pertunjukan panggung penuh, bukan sekadar album audio. Kini ia ingin menggandakan upaya menciptakan pengalaman nyata sebelum industri hiburan sepenuhnya beralih ke digital. "Saya perlu menggandakan upaya untuk menciptakan sesuatu yang bisa menjangkau penonton di barisan paling belakang, sama seperti yang di depan," jelasnya. Ia bertekad mengangkat aspek teater dalam konsernya, mengingat kekhawatirannya bahwa pengalaman fisik perlahan tergusur oleh konten digital.
Langkah ini sejalan dengan ambisi Scott di luar musik. Perusahaannya, Cactus Jack, baru saja menandatangani kesepakatan dengan Paramount untuk mengembangkan film dan ide kreatif. "Saya ingin menghidupkan kembali film-film luar biasa dan ide-ide kreatif yang berani. Paramount tidak takut untuk mewujudkan ide bagus," katanya. Scott pun secara terbuka mengincar Oscar, selain Grammy yang belum ia raih. "Saya masih butuh Grammy, tapi akan luar biasa jika bisa membawa pulang Oscar. Saya suka menetapkan tujuan dan ingin mencapainya," ucapnya.
Bagi penggemar musik di Indonesia, langkah Travis Scott ini bisa menjadi angin segar. Di tengah maraknya konser virtual dan konten digital, pendekatan Scott yang ingin mengembalikan pengalaman pertunjukan fisik justru relevan dengan pasar Indonesia yang dikenal antusias terhadap konser langsung. Belum lama ini, Indonesia menjadi salah satu tujuan tur Asia beberapa artis internasional, dan jika Scott mewujudkan konser teatrikalnya, bukan tidak mungkin Indonesia masuk dalam daftar destinasi.
Namun, tantangan tetap ada. Perpaduan pengaruh rock klasik dan elektronik dalam album barunya mungkin tidak langsung diterima oleh basis penggemar lamanya yang terbiasa dengan trap dan hip-hop. Scott tampaknya sadar akan risiko ini, tetapi ia percaya bahwa inovasi adalah kunci untuk tetap relevan. "Saya terus mendorong diri untuk menciptakan sesuatu yang belum pernah saya buat sebelumnya," tegasnya. Pertanyaan besarnya: akankah perpaduan eklektik ini melahirkan mahakarya atau justru membingungkan pendengar? Hanya waktu yang akan menjawab.



