Sentuhan yang Menenangkan: Kera Besar Gunakan Kontak Fisik untuk Jaga Perdamaian Jauh Sebelum Manusia Ada
Baca dalam 60 detik
- Penelitian baru mengungkap bahwa bonobo dan simpanse menggunakan sentuhan ramah sebelum situasi kompetitif untuk mengurangi ketegangan dan meningkatkan toleransi, sebuah perilaku yang diperkirakan sudah ada sejak 6 juta tahun lalu.
- Perilaku ini mengikuti struktur sosial masing-masing spesies: betina bonobo lebih sering saling menyentuh, sementara simpanse jantan yang dominan dalam kontak fisik.
- Temuan ini menunjukkan bahwa sentuhan sebagai alat komunikasi sosial telah menjadi warisan evolusi yang mendahului manusia, dan masih relevan dalam konteks interaksi manusia modern.

Sentuhan fisik bukan sekadar ekspresi kasih sayang, melainkan alat purba untuk menjaga harmoni sosial. Sebuah studi terbaru terhadap bonobo dan simpanse di Afrika mengungkap bahwa kera besar ini secara aktif menggunakan kontak fisik—seperti pelukan, ciuman, dan tepukan—untuk meredakan ketegangan sebelum konflik pecah, sebuah perilaku yang diperkirakan telah ada sejak 6 juta tahun sebelum manusia berevolusi.
Peneliti dari berbagai institusi melakukan observasi selama delapan bulan di suaka Lola ya Bonobo di Republik Demokratik Kongo dan Chimfunshi di Zambia. Awalnya mereka mempelajari perilaku penghiburan setelah konflik, namun perhatian beralih pada interaksi yang terjadi justru sebelum situasi tegang. Kera-kera itu kerap saling menyentuh saat menanti makanan, bukan setelah pertengkaran. Hal ini memicu dugaan bahwa sentuhan berfungsi sebagai tindakan pencegahan, bukan sekadar respons terhadap stres.
Untuk menguji hipotesis tersebut, tim menggunakan metode bernama "peanut swing"—sebuah alat yang menyebarkan kacang secara merata di area kecil. Dengan merekam 116 ekor kera dari lima kelompok selama 60 sesi, mereka mengamati bahwa individu yang lebih sering melakukan kontak fisik ramah dalam lima menit sebelum makanan tiba, menghabiskan lebih banyak waktu makan dengan damai tanpa agresi. Pola ini paling kuat pada kelompok dengan toleransi tinggi, sementara pada kelompok dengan pemimpin otoriter, pola tersebut tidak tampak.
Menariknya, bentuk sentuhan yang diamati cukup ekstrem. Simpanse, yang dikenal agresif, bahkan memasukkan jari atau tangan ke mulut kawanannya serta memegang alat kelamin. Tindakan berisiko tinggi ini justru menjadi sinyal kepercayaan: hanya individu yang yakin tidak akan digigit yang berani melakukannya. "Vulnerability is itself the signal of trust," tulis para peneliti, menggarisbawahi bahwa kerentanan justru memperkuat ikatan sosial.
Implikasi studi ini melampaui dunia primata. Penelitian sebelumnya pada manusia menunjukkan bahwa sentuhan—mulai dari jabat tangan sebelum negosiasi hingga tos dalam pertandingan bola basket—meningkatkan kerja sama dan mengurangi kecemasan. Sebuah studi tahun 2010 terhadap tim NBA menemukan bahwa tim yang lebih sering bersentuhan di awal musim memiliki performa lebih baik. Bahkan dalam situasi jalanan, pelukan dari orang asing setelah perampokan dapat menenangkan korban, mirip dengan perilaku simpanse.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan dalam konteks masyarakat yang masih menjunjung tinggi interaksi fisik, seperti bersalaman atau menyentuh bahu sebagai bentuk empati. Di tengah meningkatnya kesadaran akan batasan personal dan pengaruh budaya digital, riset ini mengingatkan bahwa sentuhan tetap menjadi alat komunikasi sosial yang ampuh. Namun, perlu dicatat bahwa norma sentuhan sangat bervariasi antarbudaya—seperti orang Inggris yang lebih menjaga jarak—sehingga penerapannya harus disesuaikan dengan konteks lokal.
Dengan garis evolusi yang terpisah 6 juta tahun lalu, kesamaan perilaku ini menunjukkan bahwa kemampuan meredakan ketegangan melalui sentuhan sudah tertanam jauh sebelum manusia modern muncul. Pertanyaan selanjutnya adalah: sejauh mana kita masih memanfaatkan warisan purba ini di era yang semakin individualistis?



