Gelombang Protes Mahasiswa India Guncang Parlemen, Tekanan pada Modi Menguat
Baca dalam 60 detik
- Oposisi India menghentikan sidang parlemen sebagai bentuk solidaritas terhadap ribuan mahasiswa yang menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan atas bocornya ujian masuk sekolah kedokteran.
- Gerakan Cockroach Janta Party yang bermula sebagai satire online kini menjadi tantangan terbesar bagi PM Modi dari kalangan pemilih muda, dengan aksi meluas ke belasan kota.
- Krisis ini membuka celah bagi oposisi untuk menekan BJP, sementara aktivis Sonam Wangchuk yang mogok makan masih menanti jaminan hukum dari pemerintah.

Oposisi India melumpuhkan jalannya sidang parlemen pada Rabu (22/7) sebagai bentuk dukungan terhadap ribuan mahasiswa yang menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mundur. Aksi ini memperkuat tekanan terhadap Perdana Menteri Narendra Modi di tengah gelombang protes yang telah berlangsung berminggu-minggu akibat bocornya soal ujian masuk sekolah kedokteran.
Protes yang dimulai bulan lalu setelah kebocoran kertas ujian mempengaruhi sekitar 2 juta peserta itu meledak pada Senin ketika puluhan ribu mahasiswa turun ke jalan di New Delhi. Polisi menggunakan gas air mata dan pentungan untuk membubarkan massa. Demonstrasi kini telah menyebar ke Mumbai, Bengaluru, Kolkata, Goa, Guwahati, Thiruvananthapuram, Jammu, dan Ahmedabad, menjadikannya tantangan terbesar dari kalangan muda sejak Modi berkuasa pada 2014.
Para anggota oposisi yang dipimpin Rahul Gandhi berkumpul di luar gedung parlemen dengan pakaian hitam dan membawa plakat menuntut pengunduran Pradhan. Mereka kemudian menghentikan sidang dengan berteriak dan memotong pembicaraan ketua sidang, memaksa penangguhan berulang di kedua majelis. "Kami sepenuhnya mendukung mereka. Ini tidak bisa ditawar dalam kondisi apa pun," tegas Gandhi dalam konferensi pers.
Sehari sebelumnya, Partai Kongres yang dipimpin Gandhi menggelar duduk-duduk di luar kediaman Modi. Polisi menahan Gandhi, saudarinya Priyanka Vadra, dan sejumlah pemimpin oposisi lainnya, namun kemudian membebaskan mereka. Di sisi lain, kader Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Modi menggelar kontra-protes di beberapa kota, yang diwarnai bentrok lempar batu di Patna dan penggunaan meriam air di Jaipur, Raipur, serta Thiruvananthapuram.
Menteri Pradhan akhirnya angkat bicara pada Selasa malam, menyatakan pemerintah berkomitmen mengatasi kekhawatiran dan mereformasi sistem ujian. Namun, ia tidak menyebut pengunduran diri. Analis menilai diamnya Modi dan BJP menunjukkan Pradhan masih figur penting di internal partai. Popularitas gerakan Cockroach Janta Party (CJP) yang bermula sebagai satire online kini melonjak, mencerminkan frustrasi generasi muda India atas minimnya lapangan kerja dan kebocoran ujian yang berulang.
Gerakan ini mendapat momentum dari dukungan aktivis Sonam Wangchuk, yang memulai mogok makan pada 28 Juni. Polisi sempat memindahkannya paksa ke rumah sakit, namun setelah perintah pengadilan ia dipindahkan ke rumah sakit swasta. Dua menteri kabinet Modi menemuinya pada Selasa malam dan memintanya mengakhiri mogok. Wangchuk bersedia berhenti hanya jika pemerintah memberi jaminan bahwa peserta protes tidak akan menghadapi tuntutan hukum.
Bagi Indonesia, gelombang protes ini menjadi pengingat betapa rentannya sistem pendidikan tinggi terhadap kebocoran data dan ketidakadilan akses. Kasus serupa pernah terjadi di Tanah Air, seperti bocornya soal Ujian Nasional berbasis komputer pada 2019. Respons pemerintah India yang lambat dalam mengakomodasi tuntutan mahasiswa bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan ujian nasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Modi akan mengorbankan Pradhan demi meredam amarah pemilih muda yang merupakan basis utama BJP, atau justru memperkuat posisinya dengan menahan tekanan oposisi. Sementara itu, nasib Wangchuk dan ribuan mahasiswa yang menuntut keadilan masih menggantung di tengah ketidakpastian jaminan hukum.



