Pulang Kampung Bawa Medali, Gavi dan Fabian Ruiz Dihadiahi Tomat Seberat Badan
Baca dalam 60 detik
- Gavi dan Fabian Ruiz menerima 68,5 kg dan 85 kg tomat sebagai hadiah dari kampung halaman mereka di Los Palacios y Villafranca setelah membawa Spanyol juara Piala Dunia 2026.
- Tradisi unik ini menjadi kebanggaan kota kecil di selatan Sevilla yang juga pernah memberikan penghargaan serupa kepada Jesus Navas pada 2010.
- Selain tomat, kedua pemain akan diabadikan namanya di lapangan sepak bola dan mendapat monumen bersama Navas sebagai inspirasi generasi muda.

Pulang ke kampung halaman dengan medali emas Piala Dunia sudah menjadi kebanggaan tersendiri. Namun bagi Gavi dan Fabian Ruiz, sambutan di Los Palacios y Villafranca, sebuah kota kecil di selatan Sevilla, membawa kejutan yang tak biasa: mereka menerima tomat seberat badan masing-masing.
Gelandang Barcelona dan Paris Saint-Germain itu tiba di balai kota pada Rabu (22/7) dengan kalung medali melingkar di leher, disambut ribuan warga yang memadati jalan. Keduanya langsung diarahkan ke timbangan untuk menentukan jumlah tomat yang akan menjadi hadiah. Hasilnya, Gavi—yang baru berusia 21 tahun—pulang dengan 68,5 kilogram tomat, sementara Ruiz yang lebih senior mendapat jatah 85 kilogram.
Tradisi ini, menurut pejabat setempat, sudah menjadi ciri khas kota berpenduduk kurang dari 40.000 jiwa itu dalam menghormati atlet berprestasi. Jesus Navas, mantan winger Manchester City yang juga berasal dari kota yang sama, menjadi penerima pertama pada 2010 setelah membawa Spanyol juara Piala Dunia. Navas, yang kini sudah pensiun, turut hadir dalam acara tersebut dan ikut menerima tomat setelah kemenangan Spanyol di Euro 2024 bersama Ruiz.
Tak hanya tomat, Gavi dan Ruiz juga mendapat kehormatan abadi: dua lapangan sepak bola di kota itu akan dinamai sesuai nama mereka. Sebelumnya, pusat olahraga kota sudah menggunakan nama Jesus Navas. Pemerintah kota juga berencana membangun monumen khusus untuk tiga pemain tersebut sebagai simbol kebanggaan warga. "Mereka adalah panutan bagi beberapa generasi anak-anak dan remaja," demikian pernyataan dewan kota.
Bagi Indonesia, tradisi unik ini bisa menjadi inspirasi bagaimana daerah kecil dapat memberikan penghargaan kreatif kepada atlet berprestasi. Di tengah perdebatan soal bonus dan fasilitas atlet, pendekatan personal seperti ini justru memperkuat ikatan emosional antara pemain dan komunitas asal. Meski nilai ekonomis tomat mungkin tidak seberapa, makna simbolisnya jauh lebih besar: bahwa seorang juara tidak pernah melupakan akar.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tradisi serupa akan diadopsi oleh kota-kota lain di Spanyol atau bahkan negara lain. Dengan Piala Dunia 2026 yang baru saja usai, momen seperti ini setidaknya mengingatkan bahwa sepak bola bukan sekadar trofi, tetapi juga kebanggaan lokal yang dirayakan dengan cara paling sederhana—dan paling tomat.



