PGE Mulai Pengeboran Sumur Eksplorasi Lumut Balai 3, Targetkan Percepatan Transisi Energi
Baca dalam 60 detik
- Pertamina Geothermal Energy (PGEO) memulai pengeboran sumur eksplorasi pertama proyek PLTP Lumut Balai Unit 3 di Sumatera Selatan pada 8 Juli 2026.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi PGEO untuk menjadi perusahaan panas bumi global terdepan, dengan proyek lain di Ulubelu dan Kotamobagu.
- Keberhasilan eksplorasi diharapkan memperkuat pasokan listrik nasional dari energi bersih dan mendukung target bauran energi terbarukan Indonesia.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) resmi memulai pengeboran sumur eksplorasi perdana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 di Muara Enim, Sumatera Selatan, pada Rabu, 8 Juli 2026. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam upaya perusahaan mempercepat pengembangan energi panas bumi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta transisi energi global.
Direktur Eksplorasi & Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, menilai keberhasilan tahap awal eksplorasi ini sebagai pencapaian strategis. Menurutnya, proyek Lumut Balai Unit 3 tidak hanya akan menambah kapasitas listrik dari sumber energi berkelanjutan, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menjadi pemimpin di industri panas bumi dunia. โKami terus mendorong eksplorasi di wilayah kerja kami, termasuk Gunung Tiga Ulubelu di Lampung dan persiapan pengeboran di Kotamobagu, Sulawesi Utara,โ ujarnya.
Proyek ini memiliki arti penting bagi ketahanan energi Indonesia. Dengan potensi panas bumi yang melimpah, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan sumber energi bersih tersebut. Langkah PGEO diharapkan dapat mempercepat realisasi target bauran energi terbarukan nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Pemerintah sendiri menargetkan kapasitas PLTP mencapai 7,2 GW pada 2030, dan kontribusi PGEO menjadi kunci pencapaian tersebut.
Dalam pengembangan proyek panas bumi, PGEO menekankan penerapan standar internasional, mulai dari perencanaan hingga kepastian proyek. Hal ini penting untuk menarik investasi dan memastikan proyek berjalan efisien. Edwil Suzandi menambahkan bahwa perusahaan juga fokus pada aspek keberlanjutan dan dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat sekitar. โKami memastikan setiap tahap pengembangan memenuhi kriteria lingkungan dan memberikan manfaat langsung bagi daerah,โ katanya.
Bagi investor dan pelaku industri energi, langkah PGEO ini menjadi sinyal positif bahwa sektor panas bumi Indonesia mulai bergerak lebih agresif. Dengan potensi sumber daya yang besar, proyek-proyek seperti Lumut Balai 3 diharapkan dapat meningkatkan daya tarik investasi di sektor energi terbarukan. Namun, tantangan seperti biaya eksplorasi yang tinggi dan regulasi masih perlu diatasi. Pertanyaannya, apakah percepatan ini cukup untuk mengejar target ambisius pemerintah dalam transisi energi?



