Serangan Siber Lumpuhkan Sistem Perdagangan Get Nice Holdings di Hong Kong
Baca dalam 60 detik
- Get Nice Holdings, perusahaan jasa keuangan terdaftar di Hong Kong, melaporkan serangan siber pada 19 Juli yang mengganggu sistem perdagangan elektronik dan layanan lainnya.
- Meskipun unit sekuritas telah pulih, unit futures masih belum beroperasi; perusahaan menyewa firma keamanan siber untuk investigasi dan melaporkan insiden ke otoritas terkait.
- Insiden ini terjadi di tengah desakan regulator Hong Kong agar perusahaan meningkatkan pertahanan siber menyusul lonjakan ancaman berbasis AI, menyoroti kerentanan sektor keuangan regional.

Serangan siber yang menargetkan Get Nice Holdings, perusahaan jasa keuangan yang tercatat di Bursa Efek Hong Kong, melumpuhkan sementara sistem perdagangan elektronik dan layanan penarikan saham pada 19 Juli lalu. Insiden ini memicu kekhawatiran akan kerentanan infrastruktur digital di sektor keuangan Asia, terutama di tengah meningkatnya ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (AI) yang belakangan menjadi perhatian regulator.
Dalam pernyataan resmi, manajemen Get Nice mengonfirmasi bahwa unit sekuritasnya telah kembali beroperasi pada Rabu (22/7), namun unit futures masih dalam proses pemulihan dan belum dapat melayani nasabah. Perusahaan menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan bukti penyalahgunaan data nasabah, dan telah menunjuk firma keamanan siber independen untuk melakukan investigasi menyeluruh.
Get Nice juga telah melaporkan insiden ini kepada Bursa Efek Hong Kong, Kepolisian Hong Kong, serta Securities and Futures Commission (SFC) โ otoritas pengawas pasar modal setempat. Meski demikian, perusahaan optimistis bahwa dampak finansial dan operasional dari serangan ini tidak akan signifikan secara material.
Serangan terhadap Get Nice terjadi hanya beberapa pekan setelah SFC mengeluarkan imbauan kepada seluruh perusahaan berlisensi untuk memperkuat pertahanan siber mereka. Regulator menyoroti peningkatan signifikan ancaman siber yang memanfaatkan AI generatif, yang mampu menembus sistem keamanan konvensional dengan lebih cepat dan akurat. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran global akan keamanan siber di sektor jasa keuangan, yang menjadi tulang punggung perekonomian modern.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan siber di industri keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) telah mendorong perbankan dan perusahaan sekuritas untuk menerapkan standar keamanan siber yang ketat, termasuk penggunaan enkripsi ujung-ke-ujung dan sistem deteksi intrusi berbasis AI. Namun, serangan terhadap perusahaan sekelas Get Nice menunjukkan bahwa bahkan institusi yang teregulasi dengan baik pun tidak kebal terhadap ancaman siber yang terus berevolusi.
Menurut analis keamanan siber, serangan terhadap Get Nice kemungkinan besar merupakan bagian dari gelombang serangan yang lebih luas yang menargetkan perusahaan jasa keuangan di Asia. โKita melihat peningkatan serangan ransomware dan gangguan layanan yang dirancang untuk menekan perusahaan agar membayar tebusan,โ ujar seorang pakar yang enggan disebutkan namanya. โNamun, yang lebih mengkhawatirkan adalah potensi kebocoran data nasabah yang bisa dimanfaatkan untuk penipuan identitas atau manipulasi pasar.โ
Ke depan, kasus ini diperkirakan akan mendorong regulator di kawasan untuk memperketat persyaratan keamanan siber, termasuk kewajiban audit rutin dan pelaporan insiden dalam waktu singkat. Pertanyaan yang muncul: apakah perusahaan keuangan di Indonesia sudah cukup siap menghadapi ancaman serupa, atau justru akan menjadi sasaran empuk berikutnya?



