Luca Williams-Barnett Curi Perhatian di Laga Uji Coba Tottenham, Kalahkan Dua Rekrutan Mahal
Baca dalam 60 detik
- Remaja 17 tahun Luca Williams-Barnett tampil gemilang saat Tottenham mengalahkan MK Dons 1-0 dalam laga pramusim, bahkan mencuri sorotan dari dua pemain anyar senilai total £185 juta.
- Williams-Barnett, yang dijuluki sebagai 'jawaban Tottenham untuk Max Dowman', menunjukkan kemampuan dribel dan visi ala Mousa Dembele di lini tengah, meski bermain lebih dalam dari biasanya.
- Penampilan impresif ini muncul di tengah perombakan akademi Spurs, termasuk penjualan striker muda Will Lankshear dan kepergian pelatih akademi Stuart Lewis.

Seorang remaja berusia 17 tahun bernama Luca Williams-Barnett sukses mencuri perhatian dalam laga uji coba Tottenham Hotspur melawan MK Dons, Rabu (22/7/2026). Penampilannya di babak kedua bahkan disebut lebih menonjol dibandingkan dua rekrutan anyar yang diboyong dengan total dana £185 juta, Sandro Tonali dan Mateus Fernandes.
Dalam pertandingan yang berakhir 1-0 untuk kemenangan Spurs itu, Fernandes langsung mencetak gol debut pada menit ketiga melalui tendangan voli spektakuler. Namun, sorotan justru beralih ke Williams-Barnett yang baru masuk di babak kedua. Gelandang muda ini mencatatkan enam dribel, dua di antaranya berhasil, serta tiga umpan kunci—satu di antaranya berupa umpan terobosan melambung yang nyaris berbuah assist andai tembakan Yang Min-hyeok tidak melenceng.
Yang membuat penampilannya istimewa adalah peran yang diberikan pelatih Roberto De Zerbi. Williams-Barnett yang biasa bermain sebagai gelandang serang ditempatkan lebih dalam, namun ia justru tampil luar biasa dengan gaya bermain yang mengingatkan pada Mousa Dembele—membawa bola melewati garis pertahanan lawan dengan mulus. "Ada nuansa Dembele saat ia meluncur di atas rumput dan membawa bola melewati lini," demikian deskripsi yang muncul dari pengamatan pertandingan.
Padahal, Williams-Barnett bukanlah nama asing di internal Spurs. Ia sudah mencatat debut tim utama musim lalu dan digadang-gadang sebagai 'jawaban Tottenham untuk Max Dowman' milik Arsenal. Musim lalu, ia mencetak 16 gol dalam 19 pertandingan bersama tim muda. Namun, penampilan di laga pramusim ini jelas menegaskan bahwa bakatnya siap bersaing di level senior.
Konteks yang tak kalah penting adalah situasi akademi Tottenham yang tengah bergolak. Klub baru saja menjual striker muda Will Lankshear ke Middlesbrough dan kehilangan pelatih akademi Stuart Lewis yang selama ini menjadi jembatan antara pemain muda dan tim utama. Di tengah kekhawatiran akan masa depan pembinaan pemain muda, kemunculan Williams-Barnett menjadi angin segar. Ia membuktikan bahwa Spurs masih memiliki permata yang siap diasah.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, cerita ini mengingatkan pada pentingnya investasi pada pemain muda di tengah gempuran belanja pemain bintang. Klub-klub Liga 1 pun bisa belajar dari pendekatan Tottenham yang tetap memberi ruang bagi talenta akademis meski telah mengeluarkan dana besar untuk rekrutan baru. Jika Williams-Barnett terus konsisten, bukan tidak mungkin ia akan menjadi pilar utama Spurs dalam beberapa musim ke depan, melampaui ekspektasi yang dibebankan pada dua rekrutan mahal tersebut.
Pertanyaan besarnya kini: akankah De Zerbi berani memberikan menit bermain reguler kepada Williams-Barnett di musim kompetisi yang sesungguhnya? Ataukah ia akan kembali dipinjamkan untuk mengasah pengalaman? Jawabannya akan menentukan apakah Spurs benar-benar serius membangun kembali fondasi akademi mereka.



