Bandara Soetta Lumpuh 8 Jam, 22.798 Penumpang Terdampak Erupsi Anak Krakatau
Baca dalam 60 detik
- Penutupan ruang udara Soekarno-Hatta diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB menyusul sebaran abu vulkanik, memicu pembatalan 209 penerbangan.
- AirNav memulihkan operasional Bandara Halim Perdanakusuma lebih awal, menunjukkan penanganan yang dinamis dan berbasis data real-time.
- Maskapai dan pengelola bandara masih mengejar pemulihan jadwal, sementara calon penumpang diminta memantau NOTAM terbaru sebelum berangkat.

Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menguji ketahanan infrastruktur penerbangan nasional. Otoritas bandara memperpanjang penutupan ruang udara Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) hingga pukul 09.30 WIB, Minggu (6/9/2026), setelah sebaran abu vulkanik menyelimuti langit Jakarta dan sekitarnya. Keputusan ini memicu pembatalan massal yang merugikan hampir 23 ribu penumpang.
Berdasarkan Notam terbaru bernomor A3344/26 yang merevisi pemberlakuan sebelumnya, status penutupan total bandara terbesar di Indonesia itu resmi diperpanjang. Langkah ini diambil demi keselamatan penerbangan, mengingat abu vulkanik dapat mengikis bilah turbin dan menyebabkan kegagalan mesin di udara. AirNav Indonesia, melalui keterangan tertulisnya, menegaskan bahwa aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam situasi darurat ini.
Menariknya, pemulihan justru mulai terlihat di Bandara Halim Perdanakusuma. Melalui Notam A3342/26, operasional bandara yang kerap menjadi alternatif rute domestik itu dinyatakan normal kembali sejak pukul 02.28 WIB dini hari tadi. Perbedaan kondisi antara dua bandara utama ini menunjukkan bahwa pengaturan lalu lintas udara dilakukan secara dinamis, mengikuti pergerakan abu yang terpantau melalui Indonesia Network Management Center (INMC). AirNav memastikan pemantauan berlangsung 24 jam penuh untuk mengantisipasi perubahan arah sebaran abu.
Dampak dari penutupan ini sangat terasa pada operasional harian. Data yang dihimpun otoritas bandara mencatat sedikitnya 209 pergerakan penerbangan lumpuh, terdiri dari pembatalan, penundaan, dan pengalihan rute. Akumulasi dari gangguan tersebut membuat 22.798 penumpang gagal terbang sesuai jadwal. Sementara itu, 170 pesawat yang sebelumnya menjalani parkir inap (RON) dipastikan berada dalam kondisi aman di apron, menunggu izin lepas landas kembali.
Rute domestik Makassar menjadi yang paling parah terdampak dengan 16 pergerakan pesawat terganggu. Di kancah internasional, Singapura mencatatkan 11 pergerakan yang terdampak. Secara rinci, sektor internasional menelan 16 pembatalan, 7 penundaan, dan 5 penjadwalan ulang yang melibatkan kota-kota besar seperti Hong Kong, Sydney, Seoul, Doha, Amsterdam, dan Kuala Lumpur. Adapun domestik mencatatkan 4 pembatalan dan 1 pengalihan rute untuk Lampung, Denpasar, dan Surabaya.
Bagi para pelaku industri dan calon penumpang, kejadian ini menjadi pengingat akan kerentanan sektor transportasi udara terhadap bencana geologi. Otoritas penerbangan mengimbau agar seluruh maskapai dan pengguna jasa terus memantau pembaruan informasi aeronautika serta Notam terkini sebelum merencanakan perjalanan. Koordinasi antara pengelola bandara dan maskapai pun terus dilakukan untuk memulihkan jadwal secara bertahap begitu status ruang udara dinyatakan aman.
Pasca penutupan yang dijadwalkan berakhir pukul 09.30 WIB, pertanyaan besar masih menggantung: apakah sebaran abu akan kembali mengganggu jadwal penerbangan sore nanti? Dengan aktivitas vulkanik yang masih fluktuatif, kesiapan infrastruktur dan ketanggapan otoritas akan terus diuji. Skenario terburuk adalah penutupan berkepanjangan yang berpotensi memicu kerugian ekonomi lebih luas bagi sektor pariwisata dan logistik nasional.



