Gelombang Protes Sistem Pendidikan India: Gerakan Kecoa Tantang Modi
Baca dalam 60 detik
- Rahul Gandhi dibebaskan setelah ditahan saat memprotes sistem ujian di India, yang memicu bentrokan terbesar dalam lima tahun terakhir.
- Gerakan Cockroach Janta Party (CJP) yang digerakkan media sosial menjadi ujian serius bagi pemerintahan Modi pasca-pemilu 2024.
- Kebocoran soal ujian kedokteran dan skandal penilaian online memicu krisis kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan India.

Polisi India membebaskan pemimpin oposisi Rahul Gandhi pada Rabu (22/7) setelah ia ditahan saat aksi duduk di depan kediaman Perdana Menteri Narendra Modi. Penahanan itu memicu gelombang protes yang telah berlangsung tiga hari dan menjadi tantangan politik terbesar bagi Modi sejak ia kembali berkuasa pada 2024.
Demonstrasi yang digerakkan oleh gerakan Cockroach Janta Party (CJP) ini menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan serta reformasi menyeluruh sistem ujian nasional. CJP, yang baru diluncurkan pada Mei lalu, telah mengumpulkan jutaan pengikut di media sosial dan menggunakan simbol kecoa sebagai perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai sistem pendidikan yang "busuk".
Bentrokan pecah pada Senin ketika demonstran melempari aparat keamanan dengan batu. Polisi membalas dengan gas air mata dan pentungan, menjadikannya protes jalanan terbesar di New Delhi dalam lima tahun terakhir. Data kepolisian mencatat 60 warga sipil dan 118 personel keamanan terluka. Aksi solidaritas juga terjadi di Mumbai dan Bengaluru dengan melibatkan ratusan orang.
Krisis ini dipicu oleh serangkaian skandal yang menggerogoti kepercayaan terhadap sistem ujian India. Kebocoran kertas ujian masuk kedokteran memaksa lebih dari dua juta calon mahasiswa mengikuti ujian ulang. Ditambah lagi, kontroversi sistem penilaian online untuk ujian sekolah menengah yang melibatkan hampir dua juta siswa semakin memicu kemarahan publik. Pradhan, dalam pernyataan pertamanya sejak protes meluas, menulis di media sosial bahwa pemerintah berkomitmen memberikan "jawaban, reformasi, dan akuntabilitas" kepada para siswa.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat akan kerentanan sistem ujian nasional yang terpusat. India dan Indonesia sama-sama menghadapi tantangan dalam menjaga integritas ujian berskala besar, terutama dengan adopsi teknologi digital. Kasus kebocoran soal dan kegagalan sistem penilaian online di India bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia yang tengah mengembangkan Computer-Based Test (CBT) untuk ujian nasional dan seleksi masuk perguruan tinggi. Pengawasan ketat dan transparansi menjadi kunci agar kepercayaan publik tidak tergerus.
Gerakan CJP sendiri menarik perhatian karena menggunakan media sosial sebagai senjata utama. Dengan simbol kecoa yang dianggap tahan banting, mereka menyuarakan kemarahan generasi muda terhadap sistem yang dianggap tidak adil. Unggahan CJP yang menyebut Pradhan "tidak kompeten" dan slogan "Kecoa masih hidup" menjadi viral, menunjukkan bagaimana gerakan akar rumput bisa memobilisasi massa secara cepat di era digital.
Ke depan, tekanan terhadap pemerintah Modi diperkirakan akan terus meningkat. Dengan dukungan publik yang meluas dan tuntutan reformasi yang jelas, CJP berpotensi menjadi kekuatan politik baru yang signifikan. Pertanyaannya, apakah pemerintah akan merespons dengan reformasi substantif atau justru mengandalkan pendekatan keamanan yang berisiko memperkeruh suasana?



