Mendagri Tito Karnavian: Rekrutmen Bersih Kunci Keberhasilan IPDN
Baca dalam 60 detik
- Mendagri Tito Karnavian menegaskan rekrutmen yang transparan dan akuntabel di IPDN menjadi faktor penentu keberhasilan organisasi hingga 60 persen.
- Praktik suap dalam penerimaan calon praja diancam sanksi tegas, karena dinilai merusak kualitas institusi dan merugikan negara.
- Pengecekan acak terhadap 10 calon wisudawan terbaik menunjukkan mayoritas berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah, membuktikan sistem berjalan murni.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian meminta Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk mempertahankan sistem rekrutmen yang bersih dan transparan. Pernyataan itu disampaikan dalam pembekalan calon wisudawan di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Rabu (22/7). Menurut Tito, kualitas rekrutmen sangat menentukan kinerja organisasi secara keseluruhan.
Dalam kesempatan tersebut, Tito mengungkapkan data yang mengejutkan: rekrutmen yang salah berkontribusi terhadap 60 persen kegagalan organisasi, sementara rekrutmen yang benar menyumbang 60 persen keberhasilan. Ia menekankan bahwa sistem penerimaan yang transparan dan akuntabel bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi utama bagi keberlangsungan lembaga pendidikan tinggi kepamongprajaan ini.
Tito juga memberikan peringatan keras kepada seluruh jajaran IPDN untuk menghindari praktik suap atau transaksional dalam penerimaan calon praja. Pemerintah, kata dia, tidak akan segan menindak tegas siapa pun yang terbukti melanggar aturan. โSaya tidak mau ada bayar membayar, kalau ada pasti akan saya tindak tegas. Tidak ada bermain seperti itu karena akan merugikan organisasi,โ ujarnya dalam keterangan tertulis.
Untuk memastikan transparansi proses pendidikan, Tito melakukan pengecekan acak dengan memanggil sepuluh calon wisudawan terbaik ke atas panggung. Langkah ini bertujuan mengonfirmasi bahwa prestasi tidak hanya dimonopoli oleh kalangan tertentu. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak praja berprestasi justru berasal dari keluarga buruh, pedagang kecil, atau aparat berpangkat rendah. โSaya merasa bangga dengan IPDN, artinya proses belajar-mengajarnya benar. Ada anaknya buruh, ada orang kecil, ada yang TNI-Polri tetapi tidak tinggi,โ tuturnya.
Kondisi ini, menurut Tito, serupa dengan tahun sebelumnya di mana sembilan dari sepuluh lulusan terbaik berasal dari kelas menengah ke bawah. Ia menilai sistem yang murni tanpa suap membuat pemerintah lega dan bangga terhadap institusi ini. Kesempatan belajar yang setara bagi seluruh putra-putri bangsa menjadi bukti bahwa meritokrasi benar-benar dijalankan. โTahun lalu saya masih ingat, sembilan dari sepuluh [yang terbaik berasal] dari low middle class. Di sini betul-betul murni, tidak ada sogok-menyogok. Itu yang membuat saya datang ke sini dengan hati yang lega,โ tandas Tito.
Ke depan, IPDN dihadapkan pada tantangan untuk menjaga konsistensi sistem rekrutmen yang bersih di tengah tekanan eksternal. Apakah lembaga ini mampu mempertahankan transparansi saat jumlah pendaftar terus meningkat? Publik menanti komitmen nyata dari seluruh pemangku kepentingan agar IPDN tetap menjadi kawah candradimuka bagi calon pemimpin daerah yang berintegritas.



