Patrick Tse Tutup Usia: Layar Perak Hong Kong Kehilangan Legenda Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Aktor senior Hong Kong Patrick Tse meninggal di usia 89 tahun, menandai perginya salah satu bintang terakhir era keemasan sinema Kanton.
- Kariernya yang membentang enam dekade tidak hanya menghibur, tetapi juga membentuk identitas perfilman Hong Kong yang kemudian diadopsi sineas generasi berikutnya.
- Kepergiannya memicu refleksi tentang masa depan industri film Hong Kong yang kini bergulat dengan regenerasi dan dominasi pasar regional.

Patrick Tse Yin, aktor legendaris yang menjadi saksi dan pelopor kebangkitan sinema Kanton di Asia Tenggara, mengembuskan napas terakhir di usia 89 tahun. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang bintang, melainkan simbol runtuhnya pilar terakhir dari era keemasan perfilman Hong Kong yang pernah berjaya.
Kabar duka ini diumumkan oleh kedua anaknya, penyanyi Nicholas Tse dan model Jennifer Tse, melalui media sosial pada Senin (22/7). Mereka meminta publik untuk mengenang sang aktor dengan senyum dan pesona khasnya, bukan dengan kesedihan. “Ayah kami meninggal dengan tenang di rumah sakit, dikelilingi keluarga, setelah kesehatannya menurun,” tulis Jennifer dalam pernyataannya.
Lahir pada 1930-an, Tse memulai kariernya saat industri film Hong Kong masih meraba bentuknya sendiri. Ia menjadi ikon yang mendefinisikan gaya akting modern, membawa karakter yang karismatik dan sedikit nakal—julukan “Sei Gor” (Kakak Keempat) melekat kuat. Charles Cheung Chi-wai, asisten profesor di Baptist University, menilai bahwa generasi bintang tahun 1960-an seperti Tse-lah yang membuat Hong Kong dijuluki “Hollywood of the East”.
Namun, di balik gemerlap penghargaan, kematian Tse memicu perdebatan tentang nasib industri film Hong Kong. Banyak yang menyebut era keemasan telah lama berlalu—studio-studio yang membesarkan Tse sudah tutup, volume produksi menurun drastis, dan penonton beralih ke film-film dari daratan Tiongkok atau Hollywood. Tse sendiri, dalam film terakhirnya Time, memerankan seorang pembunuh bayaran tua yang dipanggil kembali—sebuah metafora yang pas untuk industri yang terus merujuk pada masa lalunya.
Bagi Indonesia, kepergian Tse mengingatkan pada keterkaitan erat antara perfilman Asia Tenggara. Sinema Kanton yang dibesarkan Tse sempat mendominasi layar bioskop di Indonesia pada 1960-1970-an, memengaruhi selera dan gaya akting lokal. Kini, dengan makin kuatnya dominasi konten Korea dan Tiongkok, pertanyaan tentang regenerasi dan orisinalitas kembali mengemuka.
“Kami kehilangan bukan hanya seorang aktor, tetapi sebuah jembatan menuju masa lalu yang gemilang. Warisannya akan terus hidup dalam setiap adegan yang ia perankan,” ujar Nicholas Tse dalam pernyataan singkatnya.
Pesan Nicholas, “pertunjukan harus terus berjalan”, mungkin tepat untuk para penggemar yang ingin mengenang. Namun, bagi industri film Hong Kong, pertunjukan yang membuat Patrick Tse menjadi bintang telah lama berakhir. Yang tersisa kini adalah kenangan dan pekerjaan rumah untuk menemukan kembali panggung yang pernah begitu terang.



