Rubio Peringatkan ASEAN: Dominasi Iran di Selat Hormuz Ancam Kebebasan Navigasi Global
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut penguasaan Iran atas Selat Hormuz sebagai preseden berbahaya yang dapat mengancam jalur pelayaran internasional, termasuk di Asia Tenggara.
- Pernyataan itu disampaikan di sela pertemuan ASEAN di Manila, saat AS melanjutkan serangan udara ke target militer Iran untuk melindungi jalur perdagangan.
- Rubio menegaskan AS terbuka pada diplomasi, namun menilai Iran belum menunjukkan keseriusan dalam negosiasi.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menegaskan bahwa penguasaan Iran atas Selat Hormuz akan menciptakan preseden berbahaya yang berpotensi mengancam kebebasan navigasi di seluruh dunia, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Pernyataan itu disampaikan di hadapan para menteri luar negeri ASEAN dalam pertemuan di Manila, Rabu (22/7).
Rubio mengaitkan situasi di Timur Tengah dengan tantangan maritim yang dihadapi negara-negara ASEAN, khususnya terkait sengketa Laut China Selatan. Menurutnya, jika Iran dibiarkan mengendalikan jalur pelayaran internasional, maka negara lain bisa meniru langkah serupa di kawasan lain. "Jika kita menciptakan preseden di Timur Tengah di mana sebuah negara bisa mengendalikan jalur air internasional, memungut biaya, dan menenggelamkan kapal yang tidak membayar, maka ini akan terulang di belahan dunia lain, termasuk di kawasan ini," ujar Rubio.
Pernyataan tersebut muncul di tengah operasi militer AS yang telah berlangsung selama 11 malam berturut-turut untuk menghancurkan target-target militer Iran. Komando Pusat AS menyatakan serangan itu bertujuan mengurangi kemampuan Iran mengancam kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Rubio menekankan bahwa tuntutan Iran untuk mengontrol lalu lintas di Selat Hormuz tidak memiliki dasar hukum internasional. "Pada intinya, sangat sederhana. Iran menuntut hak yang tidak mereka miliki berdasarkan mekanisme hukum yang ada untuk mengontrol transit lalu lintas melalui Selat Hormuz," tegasnya. Ia menambahkan bahwa prinsip fundamental kebebasan navigasi sedang terancam dan "hal itu tidak boleh dibiarkan terjadi."
Kunjungan Rubio ke Manila bertepatan dengan kecaman AS terhadap insiden bentrokan antara awak kapal China dan Filipina di Laut China Selatan. Isu ini menambah ketegangan di kawasan yang juga diwarnai klaim tumpang tindih China dengan sejumlah negara ASEAN. Rubio dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela KTT ASEAN, serta menggelar pertemuan dengan negara-negara QuadโIndia, Australia, dan Jepang.
Diplomat senior AS itu juga menyatakan bahwa Washington tetap terbuka pada diplomasi dengan Iran, namun menilai Teheran belum serius dalam bernegosiasi. "AS tetap terbuka dan bersedia terlibat dalam negosiasi dan diskusi yang konstruktif, asalkan komitmen yang dibuat dipenuhi. Masalahnya saat ini adalah mereka tidak menganggap serius negosiasi," ujar Rubio. Ia menambahkan, "Jika mereka serius, kami akan serius. Jika tidak, kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan sekutu."
Bagi Indonesia, pernyataan Rubio menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di jalur perdagangan strategis seperti Selat Malaka dan Laut China Selatan. Sebagai negara maritim dengan lalu lintas kapal yang padat, Indonesia berkepentingan langsung terhadap stabilitas jalur pelayaran global. Eskalasi di Selat Hormuz berpotensi mengganggu rantai pasok energi dan komoditas, yang pada akhirnya berdampak pada perekonomian domestik.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah ASEAN mampu bersikap tegas dalam menjaga prinsip kebebasan navigasi tanpa terjebak dalam persaingan kekuatan besar. Rubio sendiri akan melanjutkan pertemuannya dengan para pemimpin kawasan untuk membahas isu ini lebih lanjut.



