Operasi Hari Ketujuh, Tim SAR Temukan Dua Jenazah KM Nurul Salsa di Perairan Sulsel
Baca dalam 60 detik
- Dua jenazah korban KM Nurul Salsa berhasil ditemukan pada hari ketujuh pencarian dan telah dievakuasi ke Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar.
- Penemuan ini mengakhiri masa tunggu keluarga korban yang selama sepekan diliputi ketidakpastian pasca tenggelamnya kapal di perairan Sulawesi Selatan.
- Operasi SAR masih berlanjut untuk mencari kemungkinan korban lain, sementara investigasi penyebab kecelakaan mulai difokuskan pada faktor cuaca dan teknis kapal.

Tim SAR gabungan akhirnya menemukan dua jenazah korban kecelakaan KM Nurul Salsa pada hari ketujuh operasi pencarian, Rabu (22/7/2026), dan langsung mengevakuasi kedua jenazah tersebut ke Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar.
Penemuan ini menjadi titik terang setelah hampir sepekan keluarga dan masyarakat menanti kabar. KM Nurul Salsa dilaporkan karam di perairan Sulawesi Selatan pada pekan lalu, dan sejak itu tim SAR dari Basarnas, TNI AL, serta relawan setempat terus menyisir lokasi kejadian. Kondisi cuaca yang tidak menentu dan arus laut yang deras sempat menghambat proses pencarian.
Menurut keterangan Kepala Basarnas Makassar, operasi hari ketujuh difokuskan pada radius lima mil laut dari titik terakhir kapal terdeteksi. Dua jenazah yang ditemukan berada dalam kantong jenazah dan diangkut menggunakan KN SAR Kamajaya. Identitas korban masih dalam proses identifikasi di rumah sakit setempat.
Kecelakaan KM Nurul Salsa menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Kapal yang mengangkut puluhan penumpang itu dilaporkan mengalami masalah mesin sebelum akhirnya tenggelam. Ombak setinggi tiga meter dan angin kencang disebut sebagai faktor utama yang mempersulit upaya penyelamatan. Para ahli maritim menilai insiden ini kembali mengingatkan pentingnya standar keselamatan pelayaran di Indonesia, terutama di jalur-jalur padat seperti perairan Sulsel.
Bagi Indonesia, kecelakaan laut seperti ini bukanlah yang pertama. Data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menunjukkan masih banyak kapal penumpang yang beroperasi tanpa kelengkapan keselamatan memadai. Masyarakat dan pengamat transportasi mendorong pemerintah untuk memperketat pengawasan dan memberikan sanksi tegas bagi operator yang lalai. Sementara itu, proses evakuasi dan pencarian terus dilakukan dengan harapan dapat menemukan seluruh korban.
Operasi SAR masih berlangsung dan tim tidak akan berhenti hingga semua korban ditemukan. Pertanyaan besar yang kini mengemuka adalah: apakah regulasi keselamatan pelayaran di Indonesia sudah cukup ketat untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali?



