Saham JELI Anjlok 60% dalam Dua Pekan, BEI Pasang Status UMA
Baca dalam 60 detik
- PT Niramas Utama Tbk (JELI) mengalami penurunan harga saham hingga 60% dari puncaknya sejak IPO dua pekan lalu, memicu pengawasan bursa.
- BEI menetapkan status unusual market activity (UMA) untuk memantau pola transaksi, namun belum mengindikasikan pelanggaran hukum.
- Investor diimbau mencermati kinerja emiten dan rencana korporasi sebelum mengambil keputusan, mengingat volatilitas tinggi pasca-IPO.

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memasukkan saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) ke dalam daftar pengawasan unusual market activity (UMA) pada Rabu (22/7/2026), menyusul penurunan harga yang drastis hanya dua pekan setelah perusahaan melakukan penawaran umum perdana (IPO). Langkah ini menjadi sinyal bagi investor bahwa pergerakan saham emiten produsen makanan ringan bermerek Inaco tersebut tengah berada di luar kebiasaan.
Berdasarkan data perdagangan, harga saham JELI ditutup di level Rp715 per saham setelah ambles 8,92% dalam sehari. Lebih mencengangkan, sejak mencatatkan harga tertinggi pasca-listing, saham ini telah merosot hampir 60%. Dalam sepekan terakhir, JELI tercatat anjlok 30,92%, sementara jika dibandingkan dengan harga IPO sebesar Rp900, penurunannya mencapai 20,56%. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan investor ritel yang baru pertama kali mencicipi saham anyar.
BEI menegaskan bahwa penetapan UMA tidak serta-merta berarti terjadi pelanggaran hukum di pasar modal. Otoritas bursa saat ini tengah memantau pola transaksi saham JELI untuk memastikan tidak ada praktik manipulasi atau insider trading. "Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan pelanggaran hukum dan peraturan di sektor pasar modal," demikian pernyataan resmi BEI yang dikutip pada hari yang sama.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan risiko tinggi yang melekat pada saham IPO, terutama jika valuasi awal dinilai terlalu optimistis. JELI yang melantai dengan harga Rp900 sempat diperdagangkan di atas level tersebut, namun aksi ambil untung dan koreksi pasar membuat harganya terkoreksi tajam. Analis menilai bahwa fundamental emiten perlu dicermati lebih dalam, mengingat persaingan di industri makanan ringan yang ketat dan margin yang tipis.
BEI merekomendasikan investor untuk memperhatikan tanggapan perusahaan terhadap permintaan konfirmasi bursa, mengamati kinerja dan pengungkapan informasi emiten, serta meninjau rencana aksi korporasi yang belum disetujui RUPS. Langkah antisipatif ini diharapkan dapat meminimalkan kerugian di tengah volatilitas yang masih berpotensi berlanjut.
Ke depan, arah pergerakan saham JELI akan sangat bergantung pada respons manajemen dan langkah-langkah yang diambil untuk memulihkan kepercayaan pasar. Pertanyaan yang mengemuka: apakah koreksi ini merupakan bagian dari siklus normal pasca-IPO atau indikasi masalah fundamental yang lebih serius?



