Anthony Taylor Gantung Peluit: Wasit Premier League Pensiun Usai 831 Laga
Baca dalam 60 detik
- Anthony Taylor memutuskan pensiun dari wasit elite setelah 22 tahun berkarier dan memimpin 831 pertandingan.
- Wasit asal Inggris itu dikenal sebagai pemimpin laga final domestik dan internasional, termasuk Piala Dunia 2026.
- Keputusan ini membuka peluang bagi generasi baru wasit, termasuk dari Asia, untuk naik ke panggung global.

Anthony Taylor, salah satu wasit paling disegani di Inggris, resmi mengakhiri kariernya di level elite pada usia 47 tahun. Keputusan itu diumumkan setelah ia memimpin pertandingan terakhirnya di Piala Dunia 2026, yakni babak 16 besar antara Portugal dan Spanyol di Amerika Serikat. Total, pria yang telah malang melintang selama 22 tahun ini tercatat memimpin 831 pertandingan resmi.
Dalam pernyataan yang dirilis melalui situs Premier League, Taylor mengakui bahwa tekanan dan sorotan publik menjadi faktor utama di balik keputusannya. โMemimpin pertandingan di level elite adalah kehormatan besar, tetapi tekanannya luar biasa dan pengawasan terus-menerus,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa waktu yang tepat untuk mundur dan beralih ke babak baru kariernya telah tiba.
Taylor menghabiskan 16 musim di Premier League dengan memimpin 432 laga. Ia juga menjadi wasit di seluruh final domestik utama Inggris: Piala FA 2017 dan 2020, Piala Liga 2015, Community Shield 2015, serta final play-off Championship 2018. Prestasi itu menempatkannya sebagai salah satu wasit paling produktif dalam sejarah sepak bola Inggris.
Di kancah internasional, Taylor menghabiskan 14 tahun dalam daftar wasit FIFA. Ia memimpin dua edisi Piala Dunia (2022 dan 2026), dua Kejuaraan Eropa (2020 dan 2024), serta dua Piala Dunia Antarklub (2022 dan 2025). Pengalaman luas itu membuatnya kerap dipercaya untuk laga-laga bertekanan tinggi, termasuk final Liga Champions 2023 antara Manchester City dan Inter Milan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pensiunnya Taylor menandai berakhirnya era wasit Inggris yang mendominasi panggung elite. Saat ini, belum ada wasit Asia Tenggara yang mampu menembus level tertinggi FIFA, meski Asosiasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) terus mendorong program pembinaan wasit. Kepergian Taylor bisa menjadi momentum bagi federasi di kawasan untuk mempercepat regenerasi wasit berkaliber dunia.
Taylor sendiri belum mengungkapkan langkah selanjutnya, tetapi ia membuka peluang untuk tetap berkontribusi di dunia sepak bola, mungkin sebagai instruktur atau analis. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah ada wasit baru dari Inggris atau bahkan Asia yang mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkannya?



