Stasiun Seremban Sentral 35% Rampung, Target Beroperasi Maret 2025
Baca dalam 60 detik
- Progres pembangunan Stasiun Seremban Sentral mencapai 35% dan dijadwalkan beroperasi pada Maret 2025, dengan kapasitas awal 30.000 penumpang per hari.
- Proyek senilai RM100 juta ini merupakan bagian dari paket RM280 juta yang mencakup peningkatan sembilan stasiun KTM di Lembah Klang.
- Stasiun bersejarah Seremban yang berusia lebih dari satu abad telah direnovasi total dengan biaya RM8 juta, termasuk pemulihan menara jam yang kini berfungsi kembali.

Menteri Perhubungan Malaysia, Anthony Loke, memastikan pembangunan Stasiun Seremban Sentral telah mencapai 35% dan sesuai jadwal untuk beroperasi pada Maret tahun depan. Stasiun senilai RM100 juta ini akan terintegrasi dengan stasiun Seremban yang telah berusia seabad, menjawab kebutuhan transportasi publik yang semakin meningkat di kawasan tersebut.
Loke mengungkapkan bahwa fase konstruksi yang paling menantang telah terlewati. Tahap awal pembangunan berjalan lambat karena pekerjaan pondasi harus dilakukan tanpa mengganggu operasional stasiun lama. Proses pemindahan kabel dan kabel bawah tanah, serta penempatan titik pancang yang presisi, menjadi penyebab utama keterlambatan di awal. Kini, kerangka struktural telah selesai dan pengerjaan atap serta peron akan segera dipercepat.
Stasiun Seremban Sentral merupakan bagian dari paket proyek RM280 juta yang juga mencakup peningkatan sembilan stasiun Keretapi Tanah Melayu (KTM) di Lembah Klang, di bawah Proyek Lintasan Berkembar Lembah Klang Fase 2. Dengan tiga peron yang dapat ditambah menjadi enam, stasiun ini dirancang untuk menampung 30.000 penumpang per hari pada tahap awal dan hingga 120.000 penumpang di masa depan. Loke memperkirakan kapasitas ini akan memenuhi kebutuhan transportasi selama 30 hingga 50 tahun mendatang.
Desain stasiun mengusung konsep bangunan hijau dengan atap bergaya Minangkabau. Selain itu, akan tersedia ruang komersial baru dan dua titik drop-off di depan dan belakang stasiun untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Loke juga menekankan langkah antisipasi banjir: setelah stasiun sempat terendam banjir bandang, kontraktor diminta segera mengerjakan sistem drainase tambahan. Saluran gorong-gorong baru akan mengalihkan air hujan dari luar stasiun ke Sungai Temiang tanpa memasuki area stasiun. โJika stasiun indah tetapi peron dan rel terendam, itu memalukan dan akan merepotkan penumpang,โ ujar Loke.
Di sisi lain, proyek konservasi stasiun lama Seremban yang dikelola Perbadanan Aset Keretapi telah selesai penuh pada Juni lalu setelah tiga tahun pengerjaan. Bangunan bersejarah yang mengalami kerusakan parahโkayu lapuk dan menara jam tidak berfungsiโkini telah dipulihkan. Menara jam telah diperbaiki dan berfungsi kembali, serta seluruh sistem kelistrikan stasiun diperbarui. Proyek lintasan berkembar Lembah Klang Fase 2 sendiri telah mencapai 55% dan ditargetkan rampung pada 2028. Selama masa konstruksi, satu jalur ditutup sehingga frekuensi KTM Komuter berkurang pada jam non-sibuk. Setelah proyek selesai, frekuensi kereta komuter dan ETS akan ditingkatkan untuk mendorong lebih banyak orang tinggal di Seremban dan bepergian ke Lembah Klang.
Kehadiran Stasiun Seremban Sentral diharapkan menjadi katalis pertumbuhan kawasan dan mengurangi kemacetan di Lembah Klang. Pertanyaannya, akankah integrasi moda transportasi dan peningkatan kapasitas ini cukup untuk mengubah kebiasaan warga beralih dari kendaraan pribadi ke kereta api? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.



