Empat Hari Terapung di Laut, Remaja Ini Selamat Berkat Gabus dan Istigfar
Baca dalam 60 detik
- Ardita (17) bertahan hidup selama empat hari di tengah laut setelah KM Nurul Salsa tenggelam di perairan Selayar, Sulawesi Selatan.
- Ia dan empat korban lain hanya mengandalkan potongan gabus sebagai pelampung, tanpa makanan dan minuman, sebelum akhirnya ditolong kapal nelayan.
- Keselamatan Ardita menyoroti pentingnya kesiapsiagaan dan perlengkapan keselamatan di kapal-kapal kecil yang kerap beroperasi di perairan terpencil Indonesia.

Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun, Ardita, selamat setelah terombang-ambing di Laut Flores selama empat hari hanya dengan berpegangan pada potongan gabus. Kapal motor Nurul Salsa yang ditumpanginya tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (15/7) lalu, dan ia baru ditemukan oleh nelayan pada Sabtu (18/7).
Dalam wawancara dari RSUD KH Hayyung Selayar, Ardita menuturkan bahwa saat kapal mulai miring dan tenggelam, ia langsung melompat ke laut. Secara kebetulan, ia menemukan sepotong gabus—biasa digunakan sebagai pelampung darurat pada kapal-kapal kecil—yang menjadi satu-satunya penyangga hidupnya bersama empat penumpang lain. "Kami hanya berpegangan pada gabus itu. Tidak ada makanan, tidak ada air minum. Matahari sangat terik," ujarnya, Selasa (21/7).
Selama empat hari mengapung, Ardita mengaku hanya bisa beristigfar dan berdoa. Ia dan korban lainnya bergantian mendorong gabus agar tetap mengapung, terutama untuk melindungi seorang anak kecil yang ikut serta. "Yang di atas gabus itu anak kecil, terus kami yang dorong," kenangnya. Beberapa kali kapal nelayan melintas, tetapi terlalu jauh hingga teriakan mereka tidak terdengar. Enam kapal sempat lewat sebelum akhirnya satu kapal nelayan mendekat dan mengevakuasi mereka.
Kecelakaan ini kembali mengingatkan pada lemahnya standar keselamatan pelayaran di Indonesia, khususnya untuk kapal-kapal rakyat yang kerap beroperasi tanpa perlengkapan darurat memadai. Menurut data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kecelakaan kapal di perairan timur Indonesia masih tinggi akibat faktor cuaca ekstrem, kelebihan muatan, dan minimnya alat keselamatan seperti sekoci atau pelampung. Dalam kasus KM Nurul Salsa, tidak ada jaket pelampung yang tersedia; gabus menjadi satu-satunya penyelamat.
Kisah Ardita juga menyoroti ketangguhan mental dalam situasi ekstrem. Psikolog darurat dari Universitas Hasanuddin, Dr. Andi Tenri, menilai bahwa kemampuan mengelola stres dan spiritualitas menjadi faktor penting dalam bertahan hidup. "Dalam kondisi tanpa harapan, pasrah dan terus berdoa dapat menjaga kewarasan. Namun, yang paling krusial adalah keberuntungan—adanya gabus dan kapal yang lewat," ujarnya.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah: apakah pemerintah daerah dan pusat akan memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal kecil yang mengangkut penumpang di perairan terpencil? Atau akankah insiden serupa terus berulang, dengan korban yang hanya mengandalkan potongan gabus dan doa?



