Ancaman Blokade Houthi di Laut Merah: Hantaman Baru bagi Harga Minyak dan Inflasi Global
Baca dalam 60 detik
- Kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb, mengancam jalur vital minyak mentah Saudi yang kini mengalir deras melalui Laut Merah.
- Arab Saudi telah mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya ke Laut Merah untuk menghindari ketidakstabilan di Selat Hormuz, membuat ancaman ini berpotensi mengerek biaya asuransi dan harga komoditas global.
- Jika blokade meluas ke negara lain, rantai pasok barang manufaktur dan energi dunia bisa terganggu, mendorong inflasi dan memaksa pemerintah serta pelaku bisnis mencari jalur alternatif yang lebih mahal.

Ancaman kelompok Houthi Yaman untuk memberlakukan embargo maritim terhadap Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb membuka babak baru eskalasi konflik Timur Tengah yang berpotensi mengguncang pasar energi global. Langkah yang diumumkan pada Senin lalu ini tidak hanya menyasar kapal-kapal Saudi, tetapi juga menguji ketahanan jalur perdagangan minyak yang selama ini menjadi arteri ekonomi dunia.
Selat Bab el-Mandeb, yang dalam bahasa Arab berarti “Gerbang Air Mata”, merupakan celah sempit sepanjang 32 kilometer yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Bersama Terusan Suez, jalur ini menjadi lintasan bagi sekitar 10–12 persen perdagangan maritim global setiap tahunnya. Bagi Arab Saudi, kepentingannya kini semakin krusial. Negeri minyak itu telah mengalihkan sebagian besar ekspor minyak mentahnya ke Laut Merah melalui pelabuhan Yanbu, yang kini menangani lebih dari 70 persen pengiriman minyak Saudi. Pengalihan ini dilakukan untuk menghindari ketidakpastian di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi titik rawan konflik dan menyumbang sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi telah menyatakan “kecaman terkeras” atas ancaman tersebut dan berjanji mengambil “semua langkah yang diperlukan” untuk melindungi kapal-kapalnya. Namun, efektivitas respons ini masih dipertanyakan. Sejarah menunjukkan bahwa ancaman semata sudah cukup untuk mengganggu arus dan biaya pelayaran di Laut Merah. Biaya asuransi untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz telah melonjak hingga 3–10 persen dari nilai lambung kapal, dan kini diperkirakan akan naik pula di rute Laut Merah. Setiap kenaikan biaya ini pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen akhir, menambah tekanan inflasi global.
Bagi Indonesia, yang merupakan importir minyak mentah dan produk olahannya, situasi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Meskipun Indonesia tidak bergantung langsung pada jalur Laut Merah untuk pasokan minyaknya, dampak tidak langsung dari kenaikan harga minyak global dan biaya pengiriman akan terasa. Harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri bisa tertekan, sementara biaya logistik untuk barang impor—mulai dari elektronik hingga bahan baku industri—berpotensi melonjak. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan memperkuat cadangan energi nasional serta diversifikasi sumber pasokan.
Para analis memperingatkan bahwa jika blokade Houthi meluas ke negara lain selain Arab Saudi, dampaknya bisa jauh lebih parah. Rantai pasok global untuk barang manufaktur, ritel, dan mesin-mesin industri akan terganggu. Alternatif memutar melalui Tanjung Harapan memang tersedia, tetapi rute ini memakan waktu tempuh lebih lama dan biaya bahan bakar yang lebih tinggi. Keputusan bisnis dan pemerintah untuk mengevaluasi ketahanan rantai pasok menjadi semakin mendesak.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka bukan hanya soal efektivitas blokade Houthi, tetapi juga seberapa jauh konflik ini akan mendorong akselerasi transisi energi. Ketergantungan pada bahan bakar fosil yang rentan terhadap gejolak geopolitik kembali menjadi sorotan. Langkah menuju energi terbarukan untuk transportasi, logistik, dan manufaktur bukan lagi sekadar wacana lingkungan, melainkan kebutuhan strategis untuk mengurangi kerentanan ekonomi global.



