Startup Pesawat Hibrida-Elektrik Electra Gelontorkan Rp12,3 Triliun untuk Pabrik di Ohio
Baca dalam 60 detik
- Electra menginvestasikan 850 juta dolar AS untuk membangun pabrik perakitan pesawat hibrida-elektrik EL9 di Springfield, Ohio, yang akan menciptakan hampir 2.000 lapangan kerja.
- Pesawat EL9 mampu lepas landas dan mendarat di landasan sepanjang 45 meter, membuka rute point-to-point hingga 400 km sebagai alternatif perjalanan darat.
- Electra menargetkan sertifikasi FAA pada 2027-2028 dan telah mengantongi 2.200 pesanan dari 63 pelanggan, menandai langkah konkret menuju era Direct Aviation.

Startup penerbangan asal Amerika Serikat, Electra, mengumumkan investasi senilai 850 juta dolar AS (sekitar Rp12,3 triliun) untuk membangun fasilitas produksi pesawat hibrida-elektrik di Springfield, Ohio. Langkah ini menandai komitmen serius perusahaan dalam merealisasikan pesawat EL9 Ultra Short, yang dirancang untuk melayani rute pendek dengan efisiensi tinggi.
Pabrik seluas lebih dari 46.000 meter persegi itu dijadwalkan menyerap 1.975 tenaga kerja dan akan menjadi pusat perakitan utama EL9. Pesawat ini menggunakan propulsi hibrida-elektrik yang memungkinkan lepas landas dan mendarat hanya dalam jarak 150 kaki (45 meter), sehingga dapat beroperasi dari lahan parkir, tongkang, atau lapangan olahraga. Konsep ini disebut Electra sebagai "Direct Aviation" โ sebuah kategori baru yang menjembatani kesenjangan antara perjalanan darat dan udara untuk jarak 80โ400 km.
Menurut data internal Electra, sekitar 32 juta perjalanan harian di AS berada dalam rentang 80โ400 km, namun hanya 0,6 persen di antaranya menggunakan moda udara. CEO Electra Marc Allen menegaskan bahwa permintaan pasar sudah jelas dan produk sudah siap. "Kami berada di jalur sertifikasi FAA dan membuat kemajuan signifikan. Saatnya membangun pabrik," ujarnya dalam wawancara di Farnborough Airshow.
Electra didukung oleh sejumlah investor strategis, termasuk Lockheed Martin Ventures, Honeywell Aerospace, dan Safran Corporate Ventures. Pekan lalu, perusahaan menandatangani perjanjian produksi dengan Safran Helicopter Engines untuk pemesanan awal 250 turbogenerator โ perangkat yang menggabungkan turbin gas dengan generator listrik untuk menghasilkan daya. Langkah ini memperkuat rantai pasok menjelang produksi massal.
Bagi Indonesia, pengembangan pesawat hibrida-elektrik seperti EL9 membuka peluang baru di sektor aviasi regional. Dengan kondisi geografis kepulauan dan banyaknya daerah terpencil yang minim infrastruktur bandara, konsep Direct Aviation bisa menjadi solusi konektivitas yang lebih efisien. Namun, regulasi dan kesiapan bandara perintis masih menjadi tantangan. Pemerintah Indonesia tengah mendorong pengembangan pesawat listrik melalui kerja sama dengan startup lokal dan internasional, meskipun belum ada proyek konkret sebesar Electra.
Electra juga terpilih dalam program percontohan pemerintah AS untuk mempercepat adopsi teknologi mobilitas udara canggih (advanced air mobility). Perusahaan menargetkan penerbangan perdana EL9 pada akhir 2027 atau 2028, dengan sertifikasi FAA diharapkan rampung pada periode yang sama. Jika berjalan sesuai rencana, pesawat ini bisa mulai beroperasi komersial pada 2030.
Pertanyaan besarnya: apakah model bisnis Direct Aviation mampu bersaing dengan moda transportasi darat yang lebih murah, terutama di negara berkembang seperti Indonesia? Atau justru akan menjadi primadona baru bagi konektivitas antar-pulau? Jawabannya akan bergantung pada regulasi, biaya operasional, dan adopsi teknologi baterai di masa depan.



