Simulasi Serangan Udara Multinasional di Sumatera Selatan: Uji Taktik Infiltrasi 320 Prajurit dari Lima Negara
Baca dalam 60 detik
- Latihan Super Garuda Shield 2026 mempertemukan 320 personel dari lima negara dalam simulasi penerjunan dan infiltrasi markas musuh di Martapura, Sumatera Selatan.
- Kegiatan ini dirancang untuk menyelaraskan prosedur operasi lintas negara dan menguji kesiapan respons krisis di kawasan Indo-Pasifik yang kian dinamis.
- Dengan total 4.743 personel dari 21 negara, SGS 2026 menegaskan posisi Indonesia sebagai poros diplomasi pertahanan regional hingga penutupan 11 September 2026.

Sebanyak 320 prajurit dari TNI serta angkatan bersenjata Amerika Serikat, India, Jepang, dan Prancis melaksanakan simulasi penyerbuan udara ke wilayah musuh di Pusat Latihan Tempur TNI AD Martapura, Sumatera Selatan, Jumat (4/9). Latihan yang menjadi rangkaian Super Garuda Shield (SGS) 2026 ini memadukan penerjunan statis dari ketinggian 1.200 kaki dengan pergerakan cepat setelah mendarat untuk menguasai area yang diasumsikan sebagai posisi lawan. Seluruh rangkaian berjalan tanpa insiden, menurut keterangan resmi Mabes TNI yang diterima di Jakarta, Sabtu (5/9).
Simulasi ini bukan sekadar unjuk kemampuan. Mabes TNI menegaskan bahwa latihan bertujuan mempertajam taktik infiltrasi udara, menyelaraskan prosedur operasi antarnegara, serta menguji kesiapan pasukan dalam merespons krisis yang berpotensi muncul di kawasan. Dengan kata lain, latihan ini menjadi ajang pembuktian bahwa prosedur gabungan antara TNI dan mitra asing dapat berjalan mulus di lapangan, terutama dalam skenario yang menuntut kecepatan dan presisi.
Penerjunan dilakukan dengan menggunakan enam pesawat angkut, terdiri dari dua Hercules C-130 dan tiga C-130 lainnya, plus satu KC-130 milik AS. Komposisi pasukan yang terjun menunjukkan bobot partisipasi masing-masing negara: 110 prajurit TNI, 147 prajurit Amerika Serikat, 40 dari India, 17 dari Jepang, dan 6 dari Prancis. Setelah mendarat, personel langsung bergerak menyusup ke area yang ditetapkan sebagai markas musuh, menguji koordinasi antarkorps dalam situasi tekanan tinggi.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dalam keterangannya di Bandung pada Senin (31/8), menyebut SGS sebagai latihan tahunan yang rutin digelar di Indonesia. Ia memaparkan bahwa tahun ini melibatkan 21 negara dengan total 4.743 personel dan 12 materi latihan. “Super Garuda Shield ini dilaksanakan setiap tahun di Indonesia. Yang hadir ada 21 negara tahun ini,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan skala ambisi latihan yang tidak hanya mengasah kemampuan tempur, tetapi juga memperkuat jejaring diplomasi pertahanan Indonesia di kancah global.
Bagi Indonesia, latihan semacam ini memiliki nilai strategis yang tidak bisa diremehkan. Di tengah rivalitas kekuatan besar di Indo-Pasifik, kehadiran 21 negara di wilayah Indonesia menunjukkan kepercayaan internasional terhadap stabilitas dan kapabilitas pertahanan nasional. Lebih jauh, latihan ini menjadi sarana untuk menguji interoperabilitas alutsista dan prosedur tempur, yang pada gilirannya dapat meningkatkan profesionalisme TNI. Namun, di sisi lain, publik perlu mencermati implikasi geopolitiknya: sejauh mana Indonesia mampu menjaga netralitas ketika menjadi tuan rumah latihan militer yang melibatkan negara-negara dengan kepentingan berbeda, seperti AS dan China—yang tidak hadir dalam latihan ini.
Keberhasilan simulasi di Martapura menjadi salah satu indikator kesiapan TNI dalam operasi gabungan multinasional. Meski demikian, latihan ini juga mengundang pertanyaan tentang kesiapan logistik dan anggaran pertahanan ke depan. Dengan luasnya wilayah latihan—dari Lampung hingga Nunukan—TNI dituntut untuk memastikan mobilitas pasukan dan peralatan berjalan efisien. Ke depan, apakah Indonesia akan terus memainkan peran sentral dalam arsitektur keamanan regional, atau justru terjebak dalam pusaran kepentingan asing? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan pertahanan nasional dalam beberapa tahun mendatang.



