Hearts di Ambang Kehancuran: Kehilangan Kapten, Pelatih, dan Bintang dalam Satu Musim Panas
Baca dalam 60 detik
- Hearts kehilangan tiga pilar utama—kapten Lawrence Shankland, pelatih Derek McInnes, dan gelandang Cammy Devlin—tanpa biaya transfer setelah musim lalu nyaris juara.
- Pelatih anyar Wouter Vrancken memulai debut dengan kekalahan telak 4-0 dari Sturm Graz, mengubur asa lolos ke Liga Champions.
- Meski statistik serangan menunjukkan potensi, efisiensi rendah dan pertahanan rapuh jadi pekerjaan rumah besar bagi Vrancken.

Kekalahan 4-0 dari Sturm Graz pada laga perdana musim baru menjadi puncak dari serangkaian pukulan telak yang dialami Hearts sejak pertengahan Mei lalu. Klub asal Edinburgh itu kehilangan gelar juara Liga Skotlandia yang sudah di depan mata dalam hitungan menit, lalu ditinggalkan kapten, pelatih kepala, dan pemain bintangnya secara beruntun.
Musim panas di Tynecastle dimulai dengan kepahitan. Hanya sepekan setelah dikalahkan Celtic 3-1 pada laga pamungkas—kekalahan yang akan menghantui penggemar seperti halnya kenangan 1986—Hearts harus merelakan kapten sekaligus pencetak gol terbanyak Lawrence Shankland pergi tanpa biaya transfer. Klausul dalam kontrak tiga tahun yang baru ditandatangani musim panas lalu memungkinkannya hengkang secara gratis.
Tak lama berselang, saat Skotlandia bersiap memulai kampanye Piala Dunia pertama dalam hampir tiga dekade, kabar mengejutkan datang: pelatih Derek McInnes memutuskan pindah ke Ibrox. Dua penggemar Rangers sejak kecil, mungkin sudah bisa diduga. Namun pukulan ketiga datang paling menyakitkan. Gelandang andalan Cammy Devlin, yang sempat dikabarkan akan menandatangani kontrak baru, malah berpose dengan seragam biru kerajaan Rangers hanya 24 jam setelah klub membantah rumor kepergiannya.
Jika era ketertinggalan Hearts dari Old Firm di liga sudah berlalu, era dijarah oleh dua raksasa Glasgow ternyata belum usai. Dalam sekejap, tiga figur paling berpengaruh musim lalu lenyap. Namun sebelum Devlin benar-benar pergi, kursi pelatih sudah terisi. Wouter Vrancken, pelatih asal Belgia yang dinobatkan sebagai pelatih terbaik Belgia dan nyaris membawa Racing Genk meraih gelar, datang dengan reputasi gemilang. Gaya sepak bola menyerang yang diusungnya diyakini akan menghibur para penggemar.
Dalam forum suporter, Vrancken menggambarkan taktiknya sebagai "kekacauan dalam struktur". Namun pada laga debutnya, yang terlihat justru kekacauan tanpa struktur. Meski statistik serangan menunjukkan Hearts tidak kalah dari tuan rumah Sturm Graz—dua peluang emas tercipta di babak pertama, namun Pierre Landry Kabore dan Alexandros Kyziridis gagal memanfaatkannya—pertahanan yang rapuh membuat mereka kebobolan empat gol. Skor 4-0 dinilai tidak mencerminkan jalannya pertandingan, tetapi efisiensi di depan gawang dan soliditas di belakang menjadi masalah krusial.
"Kesan awal menunjukkan Hearts mendapatkan pelatih kepala yang sangat bagus," ujar Joel Sked, editor Hearts Standard, dalam podcast Scottish Football Podcast. "Namun dengan segala yang terjadi, diperlukan sedikit kesabaran." Kesabaran memang barang langka di sepak bola modern. Untuk setiap Ange Postecoglou yang sukses, ada Wilfried Nancy yang gagal. Masih terlalu dini menilai di mana Vrancken akan berlabuh, namun sebagian besar penggemar Hearts tetap optimistis. Mereka telah melalui segalanya dalam dua bulan terakhir; tak ada lagi yang bisa mengejutkan mereka.
Pertanyaan besarnya, mampukah Vrancken membangun kembali tim yang porak-poranda ini? Atau justru musim ini akan menjadi mimpi buruk berkepanjangan bagi pendukung setia Hearts? Jawabannya hanya akan terjawab seiring berjalannya waktu, namun satu hal pasti: perjalanan masih panjang dan penuh onak.



