Portugal Diguyur Investasi Teknologi AS Rp 640 Triliun, Jadi Pusat AI Eropa
Baca dalam 60 detik
- Duta Besar AS untuk Portugal memproyeksikan gelombang investasi teknologi Amerika senilai lebih dari 40 miliar dolar AS hingga 2031, menjadikan Portugal sebagai pusat infrastruktur AI terbesar di Eropa.
- Proyek kabel transatlantik Nuvem milik Google menjadi simbol kemitraan strategis, dengan Portugal mengembangkan kapasitas pusat data lebih dari 2,6 GW.
- Model sovereign cloud Portugal dinilai sebagai keseimbangan ideal antara keterbukaan investasi dan perlindungan data, yang bisa menjadi contoh bagi negara lain termasuk Indonesia.

Portugal diproyeksikan akan menjadi tujuan utama investasi teknologi Amerika Serikat di Eropa dengan nilai lebih dari 40 miliar dolar AS (sekitar Rp 640 triliun) hingga tahun 2031, menjadikannya pusat infrastruktur kecerdasan buatan (AI) AS terbesar di benua itu. Pernyataan ini disampaikan Duta Besar AS untuk Portugal, John Arrigo, dalam sebuah seremoni di Lisbon, Selasa (21/7).
Menurut Arrigo, gelombang investasi ini merupakan konsekuensi dari keberhasilan penyambungan kabel transatlantik Nuvem milik Google, yang disebutnya sebagai "tanda paling jelas" dari menguatnya kemitraan AS-Portugal. Ia menambahkan bahwa Portugal kini menjadi konsentrasi terbesar investasi infrastruktur AI Amerika di seluruh Eropa, dengan lebih dari 2,6 gigawatt (GW) kapasitas pusat data yang sedang dikembangkan. Proyek terbesar di antaranya adalah Start Campus di Sines, selatan Lisbon, dengan kapasitas 1,2 GW yang didanai oleh perusahaan investasi AS Davidson Kempner.
Arrigo mendesak negara-negara Eropa lainnya untuk mengikuti jejak Portugal dalam membangun masa depan digital dengan mitra tepercaya dari AS. "Pilihan Eropa bukanlah antara kedaulatan dan kemitraan, melainkan antara membangun masa depan digital bersama sekutu terpercaya atau mencoba membangunnya sendiri dan tertinggal," ujarnya. Ia menilai kerangka kerja sovereign cloud Portugal berhasil menyeimbangkan keterbukaan untuk menarik mitra seperti Google dengan disiplin yang cukup untuk melindungi kepentingan nasional.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menyiratkan pelajaran strategis. Model sovereign cloud yang diterapkan Portugalโyang membuka pintu bagi investasi asing namun tetap menjaga kedaulatan dataโdapat menjadi referensi bagi pemerintah Indonesia dalam merancang kebijakan pusat data dan AI. Saat ini, Indonesia tengah gencar mendorong pembangunan pusat data dan regulasi perlindungan data pribadi. Keberhasilan Portugal menarik investasi besar dari raksasa teknologi AS seperti Google menunjukkan bahwa keseimbangan antara keterbukaan dan regulasi yang ketat dapat menjadi daya tarik investasi.
Namun, tantangan bagi Indonesia terletak pada kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan stabilitas regulasi. Portugal, sebagai anggota Uni Eropa, memiliki keunggulan dalam hal kepastian hukum dan akses ke pasar tunggal Eropa. Indonesia perlu memastikan bahwa kerangka regulasi seperti Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dan kebijakan pusat data tidak hanya melindungi data, tetapi juga memberikan insentif yang cukup bagi investor asing. Jika tidak, Indonesia berisiko kehilangan momentum di tengah persaingan global untuk menjadi hub AI dan pusat data.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Indonesia mampu mengadopsi model serupa tanpa mengorbankan kepentingan nasional. Dengan potensi pasar digital yang besar, Indonesia sebenarnya memiliki daya tarik tersendiri. Namun, tanpa kebijakan yang tepat, arus investasi teknologi bisa lebih memilih negara lain yang lebih siap, seperti Portugal atau Singapura. Langkah Portugal yang berani membuka diri sekaligus melindungi data warganya bisa menjadi cetak biru yang patut ditiru.



