Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak dan Batu Bara Terbakar: IHSG Justru Menguat
Baca dalam 60 detik
- Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran mendorong harga minyak dan batu bara ke level tertinggi dalam sebulan terakhir.
- Di tengah gejolak komoditas, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatat penguatan ke level 6.282 pada Selasa pagi.
- Rupiah masih tertekan di kisaran Rp17.900 per dolar AS, mencerminkan sentimen risiko yang belum sepenuhnya pulih.

Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas pada pekan ini langsung berdampak pada lonjakan harga komoditas energi global. Harga minyak mentah dan batu bara mencatat kenaikan signifikan dalam perdagangan Selasa (21/7/2026), sementara harga emas justru tertahan di level konsolidasi. Fenomena ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan pagi ini, harga minyak mentah jenis Brent melonjak lebih dari 3% mendekati level 85 dolar AS per barel, sementara batu bara acuan Newcastle naik 2,5% ke kisaran 160 dolar AS per ton. Eskalasi konflik AS-Iran memicu spekulasi bahwa jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz bisa terganggu, yang akan memangkas pasokan minyak dan gas global secara drastis. Bagi Indonesia, kenaikan harga batu bara menjadi angin segar bagi eksportir, namun di sisi lain tekanan harga minyak mentah berpotensi membengkakkan subsidi energi dalam negeri.
Menariknya, di tengah gejolak komoditas tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melanjutkan penguatannya. Pada pukul 10:06 WIB, IHSG berhasil naik ke level 6.282, didorong oleh sektor pertambangan dan energi yang menikmati kenaikan harga komoditas. Analis menilai bahwa penguatan IHSG lebih bersifat teknikal dan didorong oleh aksi beli saham-saham berbasis komoditas, bukan karena optimisme fundamental ekonomi domestik.
Sementara itu, nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan, diperdagangkan di kisaran Rp17.900 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini mencerminkan masih tingginya permintaan dolar AS di tengah ketidakpastian global. Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi guna menjaga stabilitas, namun tekanan eksternal dari kenaikan suku bunga acuan AS masih menjadi tantangan utama.
Kenaikan harga batu bara memberikan dampak positif bagi emiten tambang di bursa, seperti PT Bumi Resources Tbk dan PT Adaro Energy Tbk yang mencatat kenaikan harga saham masing-masing 4% dan 3,5% pada sesi pertama. Namun, analis mengingatkan bahwa kenaikan ini bersifat sementara dan sangat bergantung pada dinamika geopolitik. Jika konflik mereda, harga komoditas berpotensi koreksi tajam. Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah akan membebani anggaran subsidi energi yang sudah membengkak, mengingat Indonesia masih menjadi importir minyak netto.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada perkembangan diplomasi AS-Iran, terutama jika ada sinyal negosiasi atau sebaliknya, eskalasi militer. Bagi investor Indonesia, volatilitas harga komoditas dan nilai tukar menjadi dua variabel kunci yang akan menentukan arah IHSG dalam jangka pendek. Pertanyaannya, mampukah IHSG bertahan di zona hijau jika tekanan rupiah terus berlanjut?



