Rupiah Menguat ke Rp17.875, Konflik Timur Tengah Mereda dan Defisit APBN Terjaga
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup menguat 0,28% ke Rp17.875 per dolar AS pada Selasa (21/7/2026), didorong pelemahan indeks dolar dan prospek gencatan senjata di Timur Tengah.
- Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam RDG Rabu besok, sementara defisit APBN semester I-2026 tercatat rendah 0,76% terhadap PDB.
- Kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik masih membayangi inflasi global, namun peluang gencatan senjata 10 hari oleh Teheran meredakan permintaan dolar AS.

Nilai tukar rupiah berhasil ditutup perkasa terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (21/7/2026), menguat 0,28% ke level Rp17.875 per dolar AS, seiring pelemahan indeks dolar global dan meredanya ketegangan Timur Tengah yang sempat mendorong permintaan aset aman.
Berdasarkan data Refinitif, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.860 hingga Rp17.945 sepanjang hari, dengan pembukaan tipis di Rp17.920. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB tercatat melemah 0,06% ke 100,892, memberikan ruang bagi mata uang emerging market untuk bernapas. Meski demikian, posisi DXY yang masih dekat level 101 menunjukkan pasar tetap waspada terhadap risiko geopolitik global.
Dari eksternal, faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah perkembangan konflik di Timur Tengah. Harga minyak mentah dunia bertahan di level tertinggi enam pekan terakhir akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi. Kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi global lebih lanjut, yang dapat mendorong bank sentral negara maju mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, sehingga menjaga permintaan terhadap dolar AS. Namun, kabar bahwa Teheran menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari dari mediator meredakan kekhawatiran pasar dan menekan dolar sebagai safe haven.
Di dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan diumumkan Rabu (22/7/2026). Sejak Mei 2026, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar total 100 basis poin menjadi 5,75%. Keputusan selanjutnya akan menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan moneter ke depan, terutama dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.
Sentimen positif juga datang dari kondisi fiskal yang terjaga. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit APBN semester I-2026 sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap PDB, jauh di bawah batas 3% yang diamanatkan undang-undang. Pendapatan negara tumbuh 21,4% secara tahunan, didorong oleh penerimaan pajak dan bea cukai yang kuat. Keseimbangan primer bahkan mencatat surplus Rp85,1 triliun, menandakan pengelolaan fiskal yang prudent.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada hasil RDG BI dan perkembangan konflik Timur Tengah. Jika gencatan senjata benar-benar terwujud, tekanan terhadap dolar AS dapat berkurang lebih lanjut, memberi ruang bagi rupiah untuk menguat. Namun, jika harga minyak terus melonjak, inflasi global yang tinggi bisa kembali mendorong penguatan dolar. Pertanyaan besarnya: akankah BI mempertahankan suku bunga atau justru memberikan kejutan untuk mengantisipasi tekanan eksternal?



