Konsorsium Amit Bhatia Incar Saham Minoritas Liverpool, Valuasi Tembus Rp70 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Konsorsium yang dipimpin pengusaha Inggris-India Amit Bhatia menyatakan minat membeli saham minoritas Liverpool FC.
- Nilai klub dalam potensi transaksi ini diperkirakan melampaui 6 miliar dolar AS, mencerminkan lonjakan valuasi sejak FSG mengakuisisi klub pada 2010.
- Langkah ini mengikuti pola investasi serupa tahun 2023 dan menandai perubahan strategi FSG yang kini mengesampingkan model multi-klub.

Konsorsium investasi yang dipimpin oleh miliarder Inggris-India Amit Bhatia dikabarkan tengah menjajaki pembelian saham minoritas di Liverpool Football Club. Langkah ini membuka babak baru perburuan kepemilikan klub Premier League yang valuasinya kini diperkirakan menembus angka 6 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp70 triliun.
Fenway Sports Group (FSG), pemilik utama Liverpool, mengonfirmasi telah menerima ekspresi minat dari konsorsium yang dipimpin Bhatia. Dalam pernyataan resmi kepada BBC Sport, FSG menyebut investasi tersebut bersifat strategis dan masih dalam tahap awal. BBC Sport melaporkan bahwa kesepakatan belum final, namun struktur transaksi diperkirakan mirip dengan penjualan saham minoritas kepada Dynasty, perusahaan investasi olahraga global, pada 2023 lalu.
Bhatia bukan nama baru di sepak bola Inggris. Ia sebelumnya menjabat direktur dan ko-pemilik Queens Park Rangers (QPR) selama 18 musim, dan baru saja mengundurkan diri pada Selasa lalu. Ia juga menantu dari taipan baja India Lakshmi Mittal, yang kekayaannya diperkirakan melebihi 30 miliar dolar AS. Pernikahan Bhatia dengan Vanisha Mittal pada 2004 lalu tercatat dalam Guinness World Records sebagai pesta pernikahan termahal sepanjang masa, dengan biaya lebih dari 55 juta dolar AS.
Keputusan FSG membuka pintu bagi investor minoritas sebenarnya sudah diumumkan sejak 2022. Saat itu, FSG menyatakan akan mempertimbangkan pemegang saham baru jika sesuai dengan kepentingan terbaik klub. Namun, rencana penjualan penuh tidak pernah terwujud. Sebaliknya, FSG memilih jalan investasi parsial, seperti yang dilakukan Dynasty, untuk mengurangi utang bank akibat proyek infrastruktur senilai ratusan juta poundsterling.
Di sisi lain, FSG sempat menjajaki model multi-klub dengan membeli klub kedua di Eropa, mengikuti jejak Chelsea dan Manchester City. Beberapa target seperti Malaga, Getafe, dan Bordeaux telah dipertimbangkan, namun akhirnya batal. Keputusan untuk meninggalkan model ini disebut menjadi salah satu penyebab hengkangnya Michael Edwards, mantan direktur olahraga Liverpool yang direkrut kembali FSG untuk memimpin proyek multi-klub. Edwards pergi pada bulan lalu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kabar ini menjadi pengingat betapa besarnya nilai ekonomi klub-klub Premier League di mata investor global. Dengan basis penggemar yang besar di Tanah Air, Liverpool selalu menjadi salah satu klub dengan popularitas tinggi. Potensi investasi Bhatia bisa memperkuat posisi komersial klub di Asia, termasuk Indonesia, yang selama ini menjadi pasar utama merchandise dan hak siar.
Di tengah hiruk-pikuk bursa transfer, direktur olahraga Liverpool saat ini, Richard Hughes, masih memegang kendali strategi rekrutmen hingga 2027. Namun, ia dikabarkan terbuka terhadap tawaran pindah ke Arab Saudi dalam waktu dekat. Sementara itu, principal owner John W. Henry lebih banyak mengambil peran di belakang layar sejak kontroversi European Super League pada 2021.
Pertanyaan besarnya kini: apakah investasi Bhatia akan benar-benar terealisasi, atau hanya akan menjadi babak baru dalam drama kepemilikan klub yang terus bergulir? Yang jelas, Liverpool kembali menjadi pusat perhatian, bukan hanya di lapangan, tetapi juga di ruang rapat para miliarder.



