BI Rate Naik, Bos Perbanas Buka Suara soal Tekanan di Sektor Perbankan
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan suku bunga acuan BI diprediksi menggerus margin bunga bersih perbankan karena biaya dana deposito meningkat.
- Bank dengan dominasi dana murah (CASA) seperti BRI relatif lebih tahan, namun bank dengan deposito besar akan tertekan.
- Data OJK menunjukkan NIM seluruh kelompok bank sudah turun sejak akhir 2025, dengan bank jumbo (KBMI IV) paling terpukul.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi memperingatkan bahwa profitabilitas industri perbankan akan tertekan jika Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan. Pernyataan itu disampaikan sehari sebelum pengumuman Rapat Dewan Gubernur BI yang dijadwalkan pada Rabu (22/7/2026).
Hery yang juga menjabat Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menjelaskan bahwa kenaikan BI Rate berdampak langsung pada suku bunga deposito, bukan pada dana murah seperti giro dan tabungan. "Kalau suku bunga tinggi, yang meningkat pricing-nya hanya deposito. Itu tergantung struktur pendanaan masing-masing bank," ujarnya di Sentra BRI, Selasa (21/7/2026).
Ia menegaskan bahwa di BRI, komposisi dana murah (CASA) mendominasi sehingga tidak terpengaruh oleh kenaikan suku bunga. Namun, ia mengakui bahwa biaya pendanaan (cost of fund) secara keseluruhan tetap meningkat. Meski demikian, perbankan tidak bisa serta-merta menaikkan suku bunga kredit. "Ada lag time sekitar 3-4 bulan sebelum transmisi ke suku bunga kredit terjadi," kata Hery.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa rasio net interest margin (NIM) seluruh kelompok bank telah tergerus sejak akhir tahun lalu. Bank KBMI I sempat turun ke 4,56% pada Februari 2026 sebelum kembali ke 4,70% di Mei. Sementara bank KBMI III mencatat penurunan dari 3,91% menjadi 3,77%. Penurunan paling tajam terjadi pada kelompok bank jumbo (KBMI IV) yang NIM-nya susut 30 basis poin.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa tekanan suku bunga sudah mulai terasa di seluruh segmen perbankan. Hery juga mengonfirmasi adanya "perang suku bunga" di pasar deposito, yang semakin memperketat margin. Bagi investor dan nasabah, kondisi ini berarti suku bunga deposito mungkin masih akan menarik, namun kredit bisa jadi lebih mahal dalam beberapa bulan ke depan.
Pertanyaan kuncinya: akankah BI menahan laju kenaikan suku bunga demi menjaga stabilitas perbankan, atau justru melanjutkan pengetatan untuk mengendalikan inflasi? Keputusan RDG besok akan menjadi penentu arah kebijakan moneter ke depan.



