Google Resmikan Kabel Bawah Laut Nuvem, Perkuat Jalur Data AS-Eropa
Baca dalam 60 detik
- Google merampungkan pemasangan kabel bawah laut Nuvem sepanjang 7.000 km yang menghubungkan AS, Bermuda, Azores, dan Portugal, dengan kapasitas 384 Tbps.
- Proyek ini menjadi bagian dari strategi Portugal menjadi pusat data dan AI Eropa, didukung energi terbarukan dan lokasi geografis strategis.
- Kabel baru ini menambah kapasitas infrastruktur digital global yang krusial di tengah lonjakan permintaan komputasi awan dan kecerdasan buatan.

Alphabet Inc melalui anak usahanya, Google, resmi mengoperasikan kabel bawah laut transatlantik terbaru bernama Nuvem yang menghubungkan pantai timur Amerika Serikat dengan Portugal. Langkah ini menjadi respons atas ledakan permintaan layanan komputasi awan dan kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan jalur data berkapasitas raksasa antar benua.
Kabel Nuvem—yang dalam bahasa Portugis berarti "awan”—membentang sejauh 7.000 kilometer, menghubungkan Myrtle Beach, South Carolina, dengan Sines di pesisir selatan Lisboa, dengan persinggahan di Bermuda dan Azores. Sistem ini terdiri dari 16 pasang serat optik dengan kapasitas desain total sekitar 384 terabit per detik, cukup untuk mentransfer data setara 384 juta film definisi tinggi setiap detiknya.
Giorgia Abeltino, Kepala Urusan Pemerintahan dan Kebijakan Publik Google Cloud untuk kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA), menegaskan bahwa Nuvem merupakan bagian dari visi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat infrastruktur digital di Portugal dan Eropa. Menurutnya, investasi ini tidak hanya memperluas konektivitas tetapi juga mendukung transformasi digital di kawasan tersebut.
Kabel bawah laut merupakan tulang punggung internet global, membawa lebih dari 95 persen lalu lintas data dunia. Portugal sendiri kini memiliki tiga kabel bawah laut berkapasitas tinggi: Equiano milik Google yang menghubungkan Afrika Selatan dan negara-negara Afrika lainnya, EllaLink yang membentang hingga Brasil, dan kini Nuvem. Posisi geografis Portugal di pesisir Atlantik menjadikannya titik persimpangan strategis antara Eropa, Afrika, dan Amerika.
Menteri Reformasi Negara dan Inovasi Portugal, Goncalo Matias, dalam seremoni pendaratan kabel di Sines menyatakan bahwa Nuvem adalah bagian dari strategi nasional untuk menjadikan Portugal sebagai pusat data, AI, dan inovasi. "Portugal sedang menjadi apa yang selalu diundang oleh geografinya—gerbang Atlantik Eropa, titik pertemuan tiga benua: Eropa, Afrika, dan Amerika," ujarnya. Pemerintah Portugal juga mengandalkan energi terbarukan yang melimpah dan murah, seperti tenaga air, surya, dan angin, dengan kapasitas lebih dari 2,6 gigawatt yang sedang dikembangkan. Proyek terbesar adalah Start Campus di Sines berkekuatan 1,2 GW yang akan memanfaatkan investasi infrastruktur AI dari Microsoft.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya infrastruktur kabel bawah laut sebagai fondasi ekonomi digital. Sebagai negara kepulauan dengan lalu lintas internet yang terus melonjak, Indonesia memerlukan investasi serupa untuk mengurangi ketergantungan pada jalur data internasional yang terbatas. Langkah Portugal yang memadukan konektivitas global dengan energi hijau dapat menjadi model bagi pengembangan pusat data di Indonesia, terutama di kawasan timur yang kaya potensi energi terbarukan.
Ke depan, persaingan penguasaan jalur data bawah laut diprediksi semakin ketat seiring pertumbuhan layanan AI dan komputasi awan. Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu memanfaatkan posisi geografisnya untuk menjadi hub digital regional, atau justru hanya menjadi pasar bagi infrastruktur milik raksasa teknologi asing?



