Kabel Bawah Laut Batam-Changi Rampung: Koridor Digital Baru Indonesia-Singapura
Baca dalam 60 detik
- Kabel serat optik sepanjang 50 km yang menghubungkan Batam dan Singapura telah selesai dibangun dan akan beroperasi penuh pada September 2025.
- Proyek ini diharapkan memperkuat posisi Batam sebagai pusat data center regional serta mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%.
- Koneksi dengan latensi di bawah 2 milidetik ini menjadi fondasi fisik bagi kesepakatan ASEAN Digital Economy Framework yang akan ditandatangani tahun ini.

Kabel bawah laut Nongsa-Changi yang membentang sepanjang 50 kilometer antara Batam dan Singapura resmi rampung, menandai babak baru dalam integrasi digital kedua negara. Proyek yang digarap oleh BW Digital asal Singapura dan Telkom Indonesia melalui anak usahanya, Telin, ini akan menjadi jalur data terpendek dan paling langsung antara Changi dan Nongsa Digital Park—sebuah kawasan yang tengah bertransformasi menjadi pusat data center dan inovasi digital di Asia Tenggara.
Dalam seremoni penuntasan proyek di Nongsa, Senin (20/7), Deputi Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong menekankan bahwa infrastruktur semacam ini menjadi tulang punggung bagi bisnis yang mengandalkan perpindahan data secara aman, andal, dan tanpa hambatan. “Perusahaan yang mengembangkan aplikasi berbasis AI, menjalankan layanan cloud, atau mengoperasikan fasilitas manufaktur canggih—semuanya bergantung pada kemampuan memindahkan data dengan latensi minimal,” ujarnya. Gan, yang juga menjabat Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, menambahkan bahwa proyek ini adalah bukti nyata menguatnya kemitraan bilateral yang saling melengkapi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kabel ini sebagai “fondasi fisik dari koridor digital baru” yang menghubungkan Indonesia dan Singapura. Ia menganalogikan jarak tempuh fisik Jakarta-Bogor yang bisa memakan waktu satu jam macet, sementara data melintasi Batam-Singapura hanya dalam 0,2 milidetik. “Transformasi digital Indonesia diukur dari infrastruktur nyata dan konektivitas yang terus tumbuh,” tegas Airlangga, seraya menyinggung 235,26 juta pengguna internet dan 99,5 juta pengguna broadband di tanah air.
Kabel ini menjadi yang pertama mendarat langsung di Nongsa Digital Park, tempat data center berada. Ludovic Hutier, CEO BW Digital, menjelaskan bahwa koneksi langsung antara data center di Batam dan Singapura membuat transfer data lebih cepat dan efisien. Nongsa Digital Park sendiri saat ini menampung sembilan data center, tiga di antaranya sudah memasuki tahap operasi awal. Kawasan ini dikembangkan oleh Citramas Group sejak Maret 2018 dengan dukungan penuh pemerintah Indonesia dan Singapura.
Bagi Indonesia, proyek ini menjadi katalis bagi ambisi besar. Airlangga mengungkapkan bahwa industri data center Batam tumbuh 22% per tahun, melampaui rata-rata nasional sebesar 19%. Ia optimistis ekosistem digital ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 8% yang ditargetkan Presiden Prabowo Subianto pada 2029. “Aspirasi itu bisa diwujudkan dengan ekosistem digital ini, dan tidak akan terganggu oleh apa yang terjadi di Selat Hormuz,” ujarnya merujuk pada ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Di sisi lain, Gan Kim Yong melihat proyek ini membuka peluang lebih luas bagi ASEAN. Negara-negara anggota tengah memfinalkan ASEAN Digital Economy Framework, kesepakatan pertama di kawasan yang secara khusus mengatur ekonomi digital. Kerangka ini mencakup fasilitasi perdagangan digital, arus data lintas batas yang terpercaya, pembayaran elektronik, serta perlindungan konsumen daring. “Singapura membawa konektivitas global dan lingkungan bisnis terpercaya. Indonesia membawa skala, talenta, lahan, dan potensi energi terbarukan,” kata Gan.
Meski optimisme mengemuka, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa kekurangan tenaga kerja terampil dan tekanan lingkungan akibat menjamurnya data center bisa menjadi batu sandungan. Sektor informasi dan komunikasi Batam memang tumbuh dari 2,4% PDRB pada 2010 menjadi 4,1% pada 2024, namun tanpa investasi sumber daya manusia dan energi hijau yang memadai, ambisi Batam sebagai hub digital bisa terhambat. Pertanyaannya, mampukah Indonesia dan Singapura menjaga momentum ini agar manfaatnya dirasakan hingga ke pelosok negeri?



