Transaksi PFII Gunakan Dolar, Menkeu Purbaya: Tak Ganggu Rupiah
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan transaksi di Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) menggunakan dolar AS, namun tidak akan menekan nilai tukar rupiah.
- Purbaya menjelaskan dana yang masuk ke PFII berasal dari luar negeri, sehingga tidak menambah permintaan dolar domestik dan justru memperkuat pasokan valas.
- Rupiah ditutup menguat 0,28% ke Rp17.875/US$ pada Selasa (21/7/2026), seiring pelemahan indeks dolar AS di pasar global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa seluruh transaksi di Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) akan menggunakan valuta asing, termasuk dolar Amerika Serikat. Namun, ia menegaskan kebijakan ini tidak akan menggerus nilai tukar rupiah di pasar domestik.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/7/2026), Purbaya menjelaskan bahwa dolar yang digunakan di kawasan PFII berasal dari investor asing, bukan dari permintaan di dalam negeri. "Uangnya dari luar negeri, jadi enggak berpengaruh ke demand dolar di dalam negeri," ujarnya. Menurutnya, justru sebaliknya: aliran dana asing yang masuk ke PFII akan menambah pasokan valas, yang secara tidak langsung memperkuat posisi rupiah.
Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran sebagian pelaku pasar bahwa penggunaan dolar di PFII dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah, terutama jika transaksi dalam jumlah besar terjadi. Namun, Purbaya optimistis bahwa skema PFII dirancang untuk menarik investasi asing tanpa mengganggu stabilitas kurs. "Malah kalau uangnya masuk ke situ, menambah supply secara enggak langsung ya harusnya memperkuat posisi rupiah kita," tambahnya.
Konteks domestik: PFII merupakan proyek strategis pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat finansial internasional, bersaing dengan Singapura dan Hong Kong. Penggunaan valas di kawasan ini diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi asing langsung, yang pada gilirannya meningkatkan cadangan devisa dan stabilitas makroekonomi. Bagi investor Indonesia, kebijakan ini membuka peluang diversifikasi instrumen keuangan, meski tetap perlu mencermati risiko fluktuasi kurs.
Pada perdagangan hari yang sama, rupiah berhasil menguat di tengah pelemahan dolar AS secara global. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang garuda dibuka menguat tipis 0,06% di Rp17.920/US$ dan terus bergerak di zona hijau hingga penutupan. Pelemahan indeks dolar AS menjadi faktor eksternal yang mendukung penguatan rupiah, selain optimisme terhadap prospek PFII.
Ke depan, efektivitas PFII dalam menjaga stabilitas rupiah akan sangat tergantung pada realisasi investasi asing yang masuk. Jika target investasi tercapai, pasokan valas meningkat dan rupiah berpotensi menguat. Namun, jika gejolak global kembali terjadi, tekanan terhadap rupiah tetap bisa muncul. Pertanyaan yang masih menggantung: seberapa besar komitmen investor asing terhadap PFII di tengah ketidakpastian ekonomi global?



