Konflik Timur Tengah Kembali Mengancam Pasokan Energi Global, IEA Peringatkan Dampak ke LNG
Baca dalam 60 detik
- IEA menyatakan eskalasi di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran keamanan pasokan energi, meski ada faktor penahan sementara.
- Ancaman Houthi terhadap jalur alternatif Saudi dan Selat Bab el-Mandeb memperparah risiko gangguan rantai pasok minyak dan LNG.
- Keterlambatan pemulihan ekspor Teluk akan berdampak langsung pada importir LNG, termasuk Eropa yang bersiap menghadapi musim dingin.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol, Selasa (21/7), memperingatkan bahwa pertempuran yang kembali memanas di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global. Meski pasar masih memiliki bantalan untuk menyerap guncangan, risiko gangguan semakin nyata seiring meluasnya ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan.
Dalam pernyataan resminya, Birol menegaskan bahwa eskalasi permusuhan yang menyentuh Selat Hormuz dan fasilitas energi regional menimbulkan ketidakpastian baru bagi prospek pasar. Namun, ia mengakui bahwa untuk saat ini pasar minyak mentah masih diuntungkan oleh beberapa faktor penahan, seperti peningkatan ekspor dari sejumlah negara serta pengiriman minyak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melalui rute alternatif.
Meski demikian, jalur alternatif utama Arab Saudi—menggunakan pipa untuk memuat kapal tanker di pelabuhan Yanbu di Laut Merah—kini terancam. Sekutu Iran di Yaman, kelompok Houthi, menyatakan akan memblokade pelabuhan-pelabuhan Saudi. Langkah ini memicu kekhawatiran pasar yang sudah lama membayangi: serangan Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah dan Teluk Aden, seperti yang terjadi selama perang Gaza, dapat memutus lebih banyak pasokan minyak mentah dari pasar global.
Reaksi awal pasar terhadap pengumuman Houthi relatif tenang setelah Iran mengindikasikan bahwa upaya mediasi masih berlangsung, meredakan kegelisahan investor. Namun, Birol mengingatkan bahwa ancaman terhadap Selat Bab el-Mandeb—yang semakin penting sebagai jalur alternatif menghindari Selat Hormuz—semakin memperparah kekhawatiran. Selat sempit antara Laut Merah dan Teluk Aden ini menjadi titik rawan baru dalam rantai pasok energi.
IEA, yang bertugas menasihati negara-negara anggota industri serta mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis saat terjadi gangguan pasar, mencatat bahwa pelepasan cadangan pemerintah telah memberikan kelegaan yang cukup besar. Namun, Birol memperingatkan bahwa tidak ada ruang untuk berpuas diri dalam hal keamanan minyak. Ia menyoroti penurunan persediaan komersial yang tersedia, ditambah rendahnya aktivitas penyulingan, yang menyebabkan pasokan produk minyak olahan seperti bensin dan diesel lebih ketat dibandingkan minyak mentah.
Dari sisi gas alam cair (LNG), tambahan pasokan dari Amerika Serikat dan Kanada telah mengompensasi sekitar 70% kehilangan pasokan melalui Selat Hormuz. Namun, Birol menekankan bahwa penundaan lebih lanjut dalam pemulihan ekspor Teluk akan dirasakan oleh semua importir LNG, termasuk Eropa yang tengah bersiap mengisi kembali penyimpanan gasnya untuk musim dingin mendatang.
Bagi Indonesia, ancaman gangguan pasokan energi global ini patut diwaspadai. Sebagai negara pengimpor minyak dan LNG, setiap kenaikan harga atau gangguan pasokan akan berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan stabilitas pasokan dalam negeri. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan langkah antisipatif, termasuk memperkuat cadangan strategis dan diversifikasi sumber impor.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah mediasi yang dilakukan Iran akan cukup meredakan ketegangan, atau justru eskalasi baru akan memicu krisis energi yang lebih parah. Dengan persediaan komersial yang menipis dan permintaan yang tetap tinggi, setiap gangguan baru dapat memicu lonjakan harga yang signifikan.



