Trump Siapkan Tarif Baru untuk Puluhan Negara Pekan Ini
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump dikabarkan akan mengumumkan tarif impor baru untuk puluhan negara dalam waktu dekat, menggantikan tarif global 10% yang berakhir Jumat.
- Langkah ini berpotensi memicu ketegangan dagang baru dan berdampak pada rantai pasok global, termasuk Indonesia yang bergantung pada ekspor ke AS.
- Pemerintah AS masih menyusun investigasi untuk memperluas kewenangan hukum demi tarif yang lebih tinggi di masa depan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam stabilitas perdagangan global dengan rencana penerapan tarif impor baru terhadap puluhan negara, yang disebut-sebut akan diumumkan pekan ini. Langkah ini muncul di tengah masa transisi kebijakan tarif sementara sebesar 10 persen yang akan berakhir pada Jumat mendatang.
Menurut laporan Financial Times pada Selasa (21/7), tarif baru yang paling mungkin diterapkan akan setara dengan tarif 10 persen yang saat ini berlaku. Namun, pemerintahan Trump juga tengah menyiapkan sejumlah investigasi lain yang dapat memberikan dasar hukum untuk menetapkan tarif yang lebih tinggi di kemudian hari. Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Kebijakan tarif ini merupakan bagian dari strategi Trump untuk menekan mitra dagang AS agar memberikan konsesi yang lebih menguntungkan bagi Washington. Sejak menjabat, Trump telah menggunakan tarif sebagai alat negosiasi utama, terutama terhadap China dan negara-negara Eropa. Namun, kali ini sasarannya lebih luas, mencakup puluhan negara tanpa memandang status hubungan dagang bilateral.
Bagi Indonesia, kebijakan ini berpotensi menimbulkan dampak signifikan. Meski tidak disebut secara spesifik, Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dengan ekspor besar ke ASโseperti tekstil, alas kaki, dan produk pertanianโrentan terhadap kenaikan tarif. Jika tarif baru diterapkan, harga produk Indonesia di pasar AS akan naik, mengurangi daya saing dibandingkan produk dari negara lain yang mungkin mendapatkan pengecualian.
Para analis memperkirakan bahwa langkah Trump ini dapat memicu gelombang balasan dari negara-negara terdampak, yang berujung pada perang dagang baru. Hal ini akan memperburuk ketidakpastian ekonomi global yang sudah tinggi akibat inflasi dan perlambatan pertumbuhan. Di sisi lain, Trump mungkin menggunakan tarif ini sebagai alat tawar dalam negosiasi bilateral, termasuk dengan Indonesia yang saat ini tengah menjajaki perjanjian dagang terbatas dengan AS.
Pemerintahan Trump belum memberikan pernyataan resmi mengenai rincian tarif baru tersebut. Namun, sumber di Gedung Putih mengindikasikan bahwa pengumuman dapat dilakukan dalam beberapa hari ke depan, bersamaan dengan berakhirnya tarif sementara. Pertanyaan besarnya adalah: akankah Indonesia termasuk dalam daftar negara yang dikenai tarif, atau justru mendapat keringanan? Jawabannya akan menentukan arah hubungan dagang kedua negara dalam beberapa tahun ke depan.



