Kapurut di Ambang Punah: Saat Sagu Kalah Pamor oleh Beras di Mentawai
Baca dalam 60 detik
- Masyarakat Mentawai mulai meninggalkan kapurut, makanan olahan sagu yang telah menjadi tradisi berabad-abad, akibat program pemerintah yang mengedepankan beras sebagai pangan pokok.
- Pergeseran konsumsi ini mengancam tidak hanya ketahanan pangan lokal tetapi juga identitas budaya dan pengetahuan ekologis masyarakat adat yang terkait dengan hutan.
- Meskipun secara ekonomi sagu lebih murah dan lebih mengenyangkan, generasi muda lebih memilih nasi, sementara hutan sagu terancam alih fungsi lahan dan eksploitasi kayu.

Di dapur sederhana Dusun Sirilanggai, Mentawai, asap mengepul dari tungku kayu bakar yang memanggang gulungan adonan sagu berbalut daun. Dalam 30 menit, kapurut—pangan lokal berbasis sagu—siap disantap. Namun di balik kehangatan meja makan, tersimpan kisah pergeseran pangan yang mengancam keberlangsungan tradisi ini.
Kapurut, olahan tepung sagu yang dibungkus daun sagu dan dibakar, telah menjadi penopang hidup masyarakat Mentawai selama berabad-abad. Namun sejak dekade 1970-an, pemerintah melalui program pembangunan sawah dan distribusi beras perlahan mengubah pola konsumsi. Beras diposisikan sebagai simbol kemajuan, sementara sagu dianggap identik dengan keterbelakangan. Akibatnya, generasi muda mulai enggan menyentuh kapurut dan lebih memilih nasi.
Fenomena ini tidak hanya mengubah isi piring, tetapi juga mengancam sistem pengetahuan ekologis yang telah diwariskan turun-temurun. Penelitian yang dimuat dalam Jurnal Masyarakat Indonesia (2021) mencatat bahwa sagu memiliki peran sentral dalam Arat Sabulungan—kepercayaan asli Mentawai—mulai dari ritual adat hingga upacara perkawinan. Ketika sagu ditinggalkan, praktik budaya itu ikut tergerus.
Padahal, secara ekologis, Mentawai yang didominasi rawa dan tanah gambut kurang cocok untuk sawah. Alih fungsi kebun sagu menjadi lahan pertanian padi atau komoditas justru berpotensi mengancam ketahanan pangan lokal. Peneliti mengingatkan bahwa jika kecenderungan ini berlanjut, yang hilang bukan hanya sumber pangan, tetapi juga identitas budaya yang tumbuh bersama sagu.
Meski demikian, sagu belum sepenuhnya punah. Di Dusun Sirilanggai, warga seperti Rolan T. Satanduk masih rutin mengolah batang sagu menjadi tepung untuk dijual atau dikonsumsi sendiri. Ia menjual tepung Rp60.000 per karung dan juga mengolahnya menjadi makanan siap santap seharga Rp10.000 per bungkus. Daun sagu dimanfaatkan sebagai pembungkus kapurut atau atap rumah yang lebih sejuk dibanding seng. “Sama seperti beras, ini makanan kami sehari-hari,” ujarnya.
Namun, perubahan bentang alam akibat penebangan kayu oleh perusahaan mulai mempersulit akses terhadap sagu. Barnabas Saerejen, tokoh adat Mentawai, menuturkan bahwa hutan yang dulu menyediakan rotan dan manau kini semakin gundul. “Banyak manau yang mati tertimpa kayu. Sekarang sudah susah mencarinya,” katanya. Hilangnya hasil hutan bukan hanya masalah ekonomi, melainkan runtuhnya sistem kehidupan yang bergantung pada hutan.
Bagi Keisha Sapondoro, yang masih setia memasak kapurut, alasan mempertahankan sagu juga bersifat ekonomis. Namun ia melihat anak-anaknya lebih suka nasi. “Kalau kami yang tua-tua ini masih suka makan sagu. Lebih enak dan lebih tahan kenyang,” katanya. Generasi muda Mentawai kini tumbuh dengan preferensi pangan yang berbeda, meninggalkan warisan leluhur yang pernah menjadi identitas mereka.
Pertanyaannya, mampukah kebijakan pangan nasional memberikan ruang bagi sagu untuk bangkit kembali? Ataukah kapurut akan menjadi sekadar cerita di meja makan orang tua?



