IHSG Tembus 6.319, Reli Sembilan Hari Beruntun Dipicu Pengesahan RUU PFII
Baca dalam 60 detik
- IHSG melesat 1,41% ke level 6.319,85 pada Selasa (21/7/2026), melanjutkan reli sembilan hari berturut-turut.
- Pengesahan RUU Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII) oleh DPR menjadi katalis utama penguatan, didukung data kredit perbankan yang solid.
- Investor mencermati RDG Bank Indonesia dan ketegangan Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi aliran modal asing.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan rekor baru pada perdagangan Selasa (21/7/2026) dengan melesat 1,41% ke level 6.319,85. Penguatan ini melanjutkan tren positif yang telah berlangsung selama sembilan hari bursa berturut-turut, menjadikan Juli 2026 sebagai bulan dengan kinerja terbaik dalam setahun terakhir.
Data perdagangan menunjukkan volume mencapai 30,96 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp 11,07 triliun dan frekuensi 1,76 juta kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 387 saham menguat, 224 stagnan, dan hanya 181 yang melemah. Sektor properti menjadi primadona dengan lonjakan 5,17%, diikuti barang baku (3,21%), serta utilitas dan energi yang masing-masing naik lebih dari 2,5%. Satu-satunya sektor yang terkoreksi adalah kesehatan.
Katalis utama reli kali ini adalah pengesahan Rancangan Undang-Undang Pusat Financial Internasional Indonesia (RUU PFII) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada siang hari. Langkah ini disambut positif pasar karena diyakini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keuangan regional. Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja merilis data pertumbuhan kredit perbankan nasional yang mencapai 11,5% secara tahunan, menandakan sektor keuangan masih solid.
Emiten yang menjadi motor penggerak IHSG antara lain Amman Mineral Internasional (AMMN) yang menyumbang 11 poin indeks, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 7,31 poin, dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dengan kontribusi 6,01 poin. Ketiga saham ini mencerminkan sektor tambang, perbankan, dan energi yang menjadi andalan bursa.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dimulai hari ini. Keputusan suku bunga acuan akan menjadi sinyal penting bagi arah investasi ke depan. Dari eksternal, ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah kelompok Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi, mendorong harga minyak menguat dan memicu kekhawatiran pasokan energi global.
Sementara itu, Bank Sentral China mempertahankan suku bunga Loan Prime Rate (LPR), dan indeks dolar AS serta imbal hasil US Treasury kembali menguat. Kombinasi ini berpotensi menekan aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, optimisme domestik masih kuat berkat momentum kebijakan PFII dan data kredit yang solid.
Kinerja IHSG yang impresif sepanjang Juliโhanya sekali melemah pada 8 Juli 2026โmenunjukkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Pertanyaannya kini, akankah reli ini bertahan di tengah tekanan eksternal yang mulai mengintai?



