Olivia Wilde Buka Suara: Kisruh Putus dengan Harry Styles Seperti 'Tornado dari Dalam'
Baca dalam 60 detik
- Olivia Wilde mengaku terluka akibat pemberitaan miring seputar perpisahannya dengan Harry Styles yang turut menenggelamkan film Don't Worry Darling.
- Sutradara itu menyebut pengalaman tersebut seperti menyaksikan tornado dari dalam, namun kini ia merasa lebih bijak menghadapi pusaran media.
- Proyek film terbarunya, The Invite, menjadi ajang penyembuhan karena publik lebih fokus pada karya, bukan drama pribadi.

Olivia Wilde akhirnya angkat bicara mengenai perpisahannya dengan Harry Styles—bukan sekadar kisah asmara yang kandas, melainkan sebuah badai pemberitaan yang ikut menenggelamkan film garapannya, Don't Worry Darling. Dalam wawancara terbaru, Wilde mengaku bahwa sorotan publik yang berlebihan tidak hanya melukai hatinya, tetapi juga merusak peluang film tersebut untuk diapresiasi sebagaimana mestinya.
Dalam podcast Louis Theroux, Wilde menceritakan bagaimana hubungannya dengan Styles—yang juga menjadi bintang dalam film tersebut—berakhir di tengah promosi. Ia menyebut pemberitaan yang mengiringi perpisahan mereka sebagai "tornado dari dalam" yang sulit dihindari. "Saya naif sampai saat itu tentang betapa kejamnya mesin giling internet," ujarnya. Menurut Wilde, film yang diproduksi dengan biaya 30 juta dolar AS itu sebenarnya layak mendapat sorotan atas kualitas sinematografinya, bukan drama di belakang layar.
Wilde menyesalkan bahwa diskusi publik lebih banyak berputar pada kehidupan pribadinya ketimbang pesan film yang ingin disampaikan. Padahal, Don't Worry Darling digarap dengan susah payah di tengah pandemi COVID-19. Ia menyebut kontribusi sineas seperti Matty Libatique (sinematografer) dan Katie Byron (desain produksi) layak mendapat apresiasi lebih. Namun, semua itu tenggelam oleh gosip dan spekulasi yang tak terkendali.
Tak hanya soal Styles, Wilde juga membantah rumor perseteruan dengan aktris utama Florence Pugh. Ia mengutip pernyataan Pugh yang menegaskan bahwa mereka tidak menandatangani kontrak untuk menjadi bintang reality show. "Publik merasa jika Anda menjual karya ke publik, maka hidup Anda otomatis boleh dicabik-cabik oleh sekawanan serigala. Itu tidak benar," kata Wilde kepada majalah Elle. Pernyataan ini menjadi kritik tajam terhadap budaya sensasi yang kerap mengorbankan integritas artistik.
Kini, Wilde tengah mempromosikan proyek terbarunya, The Invite. Ia mengaku sempat khawatir akan kembali mengalami trauma saat masuk ke siklus pers. Namun, pengalaman ini justru terasa menyembuhkan. "Percakapan seputar The Invite sangat menarik dan saya benar-benar diizinkan untuk membahasnya. Ini membuktikan bahwa tidak selamanya media menjadi mesin penghancur," ujarnya dengan lega.
Bagi publik Indonesia, kisah Wilde menjadi pengingat bahwa tekanan media dan opini publik bisa menjadi bumerang bagi industri kreatif. Di era digital, gosip selebritas seringkali mengalahkan substansi karya. Wilde berharap ke depannya, penonton dan media lebih fokus pada kualitas film ketimbang drama pribadi para pembuatnya. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan kita—termasuk di Indonesia—beralih dari budaya sensasi menuju apresiasi yang lebih dewasa?



