Piala Dunia 2026: Antara Kontroversi Politik dan Kejutan Tim Kecil
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 yang digelar di AS, Meksiko, dan Kanada diwarnai intervensi politik, termasuk keputusan FIFA mencabut kartu merah pemain AS setelah permintaan Presiden Trump.
- Ekspansi menjadi 48 tim menghasilkan rata-rata gol per pertandingan tertinggi dalam 50 tahun terakhir, dengan tim-tim kecil seperti Cape Verde dan Curacao tampil mengejutkan.
- Kisah kiper Cape Verde, Vozinha, yang tanpa klub sebelum turnamen menjadi fenomena global, menunjukkan daya tarik sepak bola sebagai perekat di tengah perpecahan dunia.

Piala Dunia 2026 resmi berakhir dengan Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 di final yang berlangsung sengit, namun turnamen yang digelar di tiga negara—Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada—ini meninggalkan warisan yang jauh dari kata sempurna. Dari campur tangan politik hingga kejutan tim-tim underdog, edisi pertama dengan format 48 tim ini menjadi bukti bahwa sepak bola tetap mampu menyuguhkan drama dan persatuan di tengah kontroversi.
Sejak sebelum kick-off, gelaran ini sudah dibayangi masalah. Kebijakan imigrasi AS menghalangi masuknya suporter dari sejumlah negara, harga tiket yang mahal mengusir penggemar kelas menengah, dan kekhawatiran logistik transportasi serta keamanan sempat mencuat. Namun, isu yang paling mencolok adalah keputusan FIFA yang membatalkan skorsing kartu merah striker AS, Folarin Balogun, setelah Presiden AS Donald Trump mengaku menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan. Langkah ini memicu kritik tajam bahwa politik telah mencampuri ranah olahraga.
Di sisi lain, format baru yang memperkenalkan babak 32 besar—dengan delapan dari 12 tim peringkat ketiga lolos—berhasil menciptakan ketegangan hingga akhir fase grup. Meski ada kekhawatiran penurunan kualitas, rata-rata 2,96 gol per pertandingan menjadi yang tertinggi dalam lima dekade terakhir. Laga-laga seperti kemenangan dramatis Inggris 6-4 atas Prancis di perebutan tempat ketiga dan adu penalti Cape Verde melawan Argentina membuktikan bahwa sepak bola ofensif dihargai.
Dua nama baru mencuri perhatian publik global. Erling Haaland, striker Norwegia, tidak hanya membawa timnya ke perempat final, tetapi juga memikat dunia dengan kepribadiannya yang kocak dan interaksi aktif di media sosial. Lagu "Haaland" dan video AI buatan penggemar membuat namanya dikenal bahkan di luar penggemar sepak bola. Sementara itu, Vozinha, kiper Cape Verde yang menganggur sebelum turnamen, menjadi simbol perjuangan. Penampilan heroiknya—termasuk clean sheet melawan Spanyol—menginspirasi banyak orang, terbukti dari lonjakan pengikut Instagram yang fantastis.
Bagi Indonesia, turnamen ini memberikan pelajaran berharga. Ekspansi FIFA membuka peluang bagi negara-negara non-unggulan untuk bersaing, mirip dengan ambisi Indonesia untuk tampil di Piala Dunia. Namun, kesenjangan kualitas masih terlihat: debutan seperti Uzbekistan dan Jordan kesulitan, mengingatkan bahwa persiapan matang dan pembinaan jangka panjang mutlak diperlukan. Jika FIFA benar-benar memperluas ke 64 tim, Indonesia harus memastikan infrastruktur dan kualitas pemainnya siap, bukan sekadar menjadi peserta penggembira.
Di luar lapangan, momen persatuan juga tercipta. Suporter Skotlandia diadopsi warga Boston hingga terjalin rencana kota kembar dengan Glasgow. Warga Lawrence, Kansas, menyambut hangat tim Aljazair meski tidak mengenal mereka. Di Tijuana, tim Iran berterima kasih kepada warga Meksiko yang menyebut negara itu sebagai "rumah kedua". Fenomena ini menunjukkan bahwa sepak bola tetap menjadi bahasa universal yang mampu meruntuhkan sekat-sekat sosial dan politik.
Namun, FIFA perlu berhati-hati dengan rencana ekspansi lebih lanjut. Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsene Wenger, menyebut format 48 tim sebagai "keputusan tepat" yang menghasilkan pertandingan menghibur. Tapi menambah jumlah peserta menjadi 64 tim berisiko membuat turnamen semakin gemuk dan membebani tuan rumah. Akankah FIFA mendengarkan kritik atau justru terus mengejar keuntungan komersial? Jawabannya akan menentukan masa depan Piala Dunia sebagai pesta sepak bola sejati.



