IHSG Catat Reli 9 Hari Beruntun, Tembus Level Psikologis 6.200
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan menguat 0,67% pada pembukaan perdagangan, memperpanjang tren positif sembilan hari berturut-turut.
- Reli ini didorong oleh masuknya kembali dana asing, penguatan saham perbankan, dan kepastian peringkat kredit Indonesia dari S&P.
- Pelaku pasar kini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dan perkembangan konflik Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi aliran modal.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali membuka perdagangan di zona hijau pada Selasa (21/7/2026), mencatatkan reli selama sembilan hari bursa beruntun—pencapaian yang jarang terjadi dalam setahun terakhir. Pada pukul 09.00 WIB, indeks melesat 0,67% atau 41,79 poin ke level 6.273,57, menembus level psikologis 6.200 yang sempat menjadi resisten kuat.
Kenaikan ini tidak lepas dari deretan sentimen positif yang mengakumulasi sejak awal Juli. Sepanjang 9–21 Juli, IHSG telah menguat sekitar 6,1%, didorong oleh aksi beli investor asing yang mulai deras kembali. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, seperti BBCA dan BBRI, menjadi motor utama penguatan. Selain itu, keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB dengan outlook stabil memberikan keyakinan tambahan bagi pelaku pasar.
Meski demikian, reli ini diuji oleh sejumlah risiko eksternal. Di Timur Tengah, kelompok Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Harga minyak mentah langsung merespons dengan kenaikan, yang secara tidak langsung dapat meningkatkan tekanan inflasi di negara importir minyak seperti Indonesia. Sementara itu, penguatan indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury berpotensi mengurangi daya tarik aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dimulai hari ini. Pasar memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga acuan di level 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Namun, jika BI memberikan sinyal pelonggaran, hal itu bisa menjadi katalis tambahan bagi IHSG. Di sisi lain, rencana pengesahan Rancangan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) di DPR juga dinantikan, karena berpotensi membuka peluang investasi baru di sektor keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut memberikan angin segar dengan menyatakan kondisi perbankan nasional solid. Pertumbuhan kredit mencapai 11,5% secara tahunan, menunjukkan bahwa sektor riil mulai bergerak. Hal ini menjadi fundamental yang mendukung keberlanjutan reli IHSG, meskipun investor tetap waspada terhadap potensi capital outflow akibat kebijakan moneter global yang ketat.
Ke depan, kemampuan IHSG untuk bertahan di atas level 6.200 akan sangat bergantung pada hasil RDG BI dan perkembangan konflik Timur Tengah. Jika suku bunga tetap ditahan dan ketegangan geopolitik mereda, indeks berpotensi menguji resistance berikutnya di 6.350. Namun, jika tekanan eksternal meningkat, reli sembilan hari ini bisa menjadi sinyal kelelahan (exhaustion) yang diikuti koreksi. Pertanyaannya, mampukah IHSG mempertahankan momentum positif di tengah arus global yang penuh ketidakpastian?



