Banjir Bandang Nuristan Tewaskan 20 Orang, Lebih dari 100 Warga Hilang
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang akibat hujan deras melanda Provinsi Nuristan, Afghanistan timur, menewaskan sedikitnya 20 orang dan menyebabkan lebih dari 100 orang hilang.
- Ibu kota Parun mengalami kerusakan parah, termasuk wali kota yang ikut hilang, sementara tim penyelamat kewalahan dengan peralatan terbatas.
- Bencana ini memperparah kerentanan Afghanistan yang miskin dan dilanda perang, dengan deforestasi disebut memperburuk dampak banjir.

Banjir bandang yang dipicu hujan deras melanda wilayah timur Afghanistan pada Senin (22/7) menewaskan sedikitnya 20 orang dan menyebabkan lebih dari 100 lainnya dinyatakan hilang. Pemerintah Taliban menyebutkan bahwa ibu kota Provinsi Nuristan, Parun, menjadi wilayah yang paling parah terdampak, dengan wali kota setempat termasuk dalam daftar orang hilang.
Selain korban jiwa, lebih dari 80 warga dilaporkan luka-luka. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan rumah-rumah, toko, dan gedung pemerintahan hancur parah. Ashiqullah Safi, pimpinan lembaga swadaya masyarakat lokal Shpoul, mengatakan kepada AFP bahwa banjir "benar-benar menghancurkan munisipalitas" Parun. Warga terpaksa mencari korban di antara puing-puing tanpa peralatan yang memadai, sementara bongkahan batu besar berserakan di seluruh kota.
Afghanistan termasuk negara yang paling rentan terhadap dampak ekstrem perubahan iklim dan bencana alam, seperti badai dan kekeringan. Negara ini juga merupakan salah satu yang termiskin di dunia, porak-poranda oleh perang selama puluhan tahun yang berpuncak pada penarikan pasukan koalisi pimpinan AS dan kembalinya Taliban berkuasa pada 2021. Kondisi ini membuat respons bencana semakin terbatas dan bergantung pada bantuan internasional.
Departemen meteorologi Taliban telah memperingatkan bahwa hujan lebat dan banjir akan berlanjut di 10 provinsi hingga Rabu (24/7). Warga diminta menjauhi tepi sungai dan daerah rawan banjir. Nuristan sendiri dikenal dengan puncak hijau, hutan lebat, dan sungai jernih, dan telah ditetapkan sebagai taman nasional pada 2020. Namun, deforestasi dan penebangan liar di Nuristan dan provinsi lain justru memperparah banjir bandang karena mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan.
Bencana ini bukan yang pertama. Pada April lalu, hujan deras dan banjir di Afghanistan utara menewaskan sedikitnya 150 orang, sementara Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan angka kematian lebih dari 300 jiwa. Bagi Indonesia, bencana berulang di Afghanistan menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan lingkungan dan kesiapsiagaan bencana, terutama di daerah rawan banjir dan longsor seperti di beberapa wilayah Nusantara. Pertanyaannya, mampukah Taliban dan komunitas internasional membangun kembali infrastruktur yang hancur dan memperkuat sistem peringatan dini di tengah keterbatasan sumber daya?



