AS Kembali Gempur Iran Malam ke-10, Selat Hormuz Makin Panas
Baca dalam 60 detik
- Militer AS melancarkan serangan udara ke-10 berturut-turut terhadap Iran, menargetkan infrastruktur militer di sekitar Selat Hormuz.
- Gencatan senjata sementara yang ditengahi Pakistan bulan lalu runtuh, memicu eskalasi baru dengan korban jiwa dari kedua sisi.
- Ancaman terhadap jalur energi global meluas setelah Houthi Yaman mengumumkan embargo maritim ke Arab Saudi di Laut Merah.

Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran untuk malam kesepuluh secara beruntun, Senin (21/7) waktu setempat, sebagai bagian dari upaya membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia. Rentetan serangan ini dipicu oleh tewasnya seorang prajurit AS dalam serangan Iran terhadap sekutu-sekutu Washington di kawasan Teluk, termasuk Kuwait, Yordania, dan Bahrain—markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui pernyataan di media sosial menyebutkan bahwa serangan terbaru ini dirancang untuk semakin melumpuhkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal dagang di selat tersebut. Sejak gencatan senjata sementara yang ditandatangani bulan lalu kandas, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz—yang sebelumnya memasok seperlima kebutuhan minyak dunia—nyaris terhenti total. Kedua belah pihak juga mulai menyasar infrastruktur sipil yang digunakan oleh jutaan warga.
Di tengah meningkatnya tensi, secercah harapan diplomatik muncul ketika Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, terbang ke Islamabad untuk melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Pakistan selama ini berperan sebagai mediator utama konflik. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, menyatakan optimisme bahwa akan ada kabar baik dari pertemuan tersebut. Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tetap terbuka untuk negosiasi, tetapi harus bersifat nyata dan serius.
Serangan AS kali ini menargetkan pusat komando militer Iran, sistem pertahanan udara, situs pengawasan pesisir, serta lokasi peluncuran rudal dan drone. Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan sedikitnya satu orang di sekitar Tabriz—kota yang diyakini menjadi markas rudal bawah tanah Garda Revolusi Iran. Selain itu, kota-kota seperti Bandar Imam Khomeini, Sirik, Jask, Konarak, dan Chabahar juga menjadi sasaran. Otoritas Iran mengumumkan bahwa sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu, sedikitnya 50 warga sipil tewas dan 517 lainnya luka-luka akibat serangan AS. Di pihak Amerika, 17 prajurit telah gugur sejak konflik meletus.
Ancaman baru terhadap pasokan energi global muncul setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi di Laut Merah. Dengan Selat Hormuz yang diblokade, Arab Saudi selama ini mengandalkan jalur pipa menuju Laut Merah untuk mengekspor minyak. Namun, Houthi menyatakan akan menghalangi pengiriman antara Laut Merah dan Teluk Aden sebagai balasan atas serangan terhadap Bandara Sanaa yang mereka tuduh dilakukan oleh Riyadh. Sebelumnya, Houthi telah menunjukkan kemampuan mengganggu pelayaran dengan menyerang lebih dari 100 kapal selama konflik Israel-Hamas di Gaza.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz dan Laut Merah membawa risiko langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak dunia akan membebani anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Selain itu, gangguan pada rute pelayaran di dua titik strategis tersebut dapat memperpanjang waktu pengiriman dan meningkatkan biaya logistik, yang pada akhirnya berdampak pada harga barang di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan langkah antisipatif, termasuk mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat kerja sama dengan negara-negara produsen alternatif.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah diplomasi Pakistan mampu menjembatani kesenjangan antara tuntutan AS dan Iran, atau justru konflik akan semakin melebar dengan keterlibatan aktor-aktor regional seperti Houthi. Jika gencatan senjata kembali gagal, bukan tidak mungkin harga minyak akan menembus angka 100 dolar AS per barel, mengulang krisis energi yang pernah melumpuhkan ekonomi global.



