China-Rusia Gelar Latihan Tembak di Zona Ekonomi Eksklusif Jepang, Tokyo Protes
Baca dalam 60 detik
- Angkatan laut China dan Rusia menggelar latihan tembak senapan mesin di ZEE Jepang, pertama kalinya terdeteksi dan diumumkan publik.
- Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengecam tindakan tersebut sebagai bukti menguatnya kerja sama militer Beijing-Moskow di kawasan.
- Jepang merespons dengan mempercepat strategi produksi pertahanan dan memperluas kerja sama industri militer dengan Eropa, termasuk Inggris dan Italia.

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengungkapkan bahwa angkatan laut China dan Rusia telah melakukan latihan tembak langsung di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang pada akhir pekan lalu, sebuah langkah yang dinilai sebagai eskalasi baru dalam kerja sama militer kedua negara di kawasan Indo-Pasifik.
Dalam pidato utama di pameran kedirgantaraan internasional Farnborough, Inggris, Senin (21/7), Koizumi menyebut insiden itu terjadi pada Minggu (20/7) ketika sebuah kapal perusak berpeluru kendali China menembakkan senapan mesin di perairan sekitar 180 kilometer barat daya Okinotori, pulau paling selatan Jepang. Kapal tersebut merupakan bagian dari armada tiga kapal perang China dan satu fregat Rusia yang sebelumnya terpantau berlayar bersama pada Kamis (17/7) di selat antara Pulau Okinawa dan Pulau Miyako menuju Samudra Pasifik.
Kementerian Pertahanan Jepang menegaskan bahwa ini adalah pertama kalinya mereka mendeteksi dan mengumumkan secara publik latihan tembak langsung militer China di ZEE Jepang. Meski tidak ada laporan kerusakan pada kapal lain di sekitar lokasi, Tokyo telah menyampaikan kekhawatiran melalui saluran diplomatik kepada Beijing bahwa latihan semacam itu dapat membahayakan navigasi kapal-kapal di perairan padat lalu lintas tersebut.
Koizumi menghubungkan insiden ini dengan uji coba rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam China awal bulan ini. "Setiap kejadian ini merupakan manifestasi lain dari semakin dalamnya kerja sama militer antara China dan Rusia," ujarnya. Ia menambahkan bahwa keamanan kawasan Indo-Pasifik tidak terpisahkan dari keamanan Eropa Atlantik, dan Jepang berperan sebagai jembatan di antara keduanya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara yang berbatasan dengan Laut China Selatan dan memiliki kepentingan di jalur perdagangan Indo-Pasifik, peningkatan aktivitas militer China-Rusia di sekitar Jepang menandakan potensi perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan. Indonesia selama ini mengusung pendekatan bebas aktif, namun tekanan untuk memperkuat kerja sama pertahanan dengan negara-negara demokrasi seperti Jepang dan Australia kemungkinan akan meningkat.
Dalam pidatonya, Koizumi juga mengumumkan rencana Jepang untuk menyusun Strategi Basis Produksi dan Teknologi Pertahanan guna mengarahkan industri pertahanan jangka menengah-panjang. Ia berjanji memastikan kapasitas produksi yang cukup untuk memasok peralatan pertahanan bahkan dalam situasi darurat berkepanjangan. Lebih lanjut, ia menyoroti perubahan kebijakan ekspor senjata Jepang yang kini memungkinkan transfer semua kategori alat pertahanan, termasuk jet tempur dan kapal perusak.
"Industri pertahanan tidak lagi bisa diselesaikan oleh satu negara saja," kata Koizumi, seraya menekankan pentingnya kerja sama dengan mitra Eropa yang memiliki "teknologi eksklusif" untuk membangun rantai pasok yang tangguh.
Langkah Jepang ini sejalan dengan proyek Global Combat Air Program (GCAP) bersama Inggris dan Italia untuk mengembangkan jet tempur generasi berikutnya. Bagi Indonesia, yang juga tengah menjajaki kerja sama industri pertahanan dengan berbagai negara, model kolaborasi multilateral seperti GCAP bisa menjadi referensi, meskipun tantangan anggaran dan alih teknologi tetap menjadi kendala utama.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana China dan Rusia akan terus menguji batas-batas ZEE negara lain, dan bagaimana respons kolektif negara-negara Indo-Pasifikโtermasuk Indonesiaโdalam menjaga stabilitas kawasan tanpa memicu konfrontasi langsung.



