Lautaro Martinez Kecewa Tak Dimainkan di Final Piala Dunia 2026, Kirim Pesan ke Scaloni
Baca dalam 60 detik
- Lautaro Martinez mengaku kecewa karena hanya menjadi penonton saat Argentina kalah 1-0 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026.
- Keputusan Scaloni tidak memainkan striker Inter Milan itu menuai kritik media Argentina, apalagi tim gagal mencatatkan tembakan tepat sasaran hingga perpanjangan waktu.
- Dengan 40 gol dalam 84 caps, Martinez masih menjadi andalan Argentina meski harus rela digantikan Julian Alvarez di laga puncak.

Kekecewaan mendalam diungkapkan Lautaro Martinez setelah Argentina gagal mempertahankan gelar juara Piala Dunia 2026. Striker Inter Milan itu harus rela duduk di bangku cadangan sepanjang final saat La Albiceleste takluk 1-0 dari Spanyol. Dalam unggahan di Instagram, ia menyayangkan tak diberi kesempatan untuk membantu tim di lapangan.
Martinez, yang musim lalu menjadi Capocannoniere Serie A dan membawa Inter meraih scudetto serta Coppa Italia, sebenarnya tampil gemilang di Piala Dunia kali ini. Ia mencetak tiga gol dalam tujuh pertandingan, termasuk gol penentu kemenangan kontra Swiss dan, yang paling krusial, gol kemenangan atas Inggris di semifinal. Namun, di partai puncak, ia tak dimainkan sama sekali.
Keputusan pelatih Lionel Scaloni untuk tidak memainkan Martinez menjadi sorotan tajam media Argentina. Terlebih, timnas Argentina gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran hingga babak perpanjangan waktu. Scaloni justru memilih memasukkan bek Marco Senesi di menit-menit akhir, meninggalkan Martinez sebagai penonton. Banyak pihak menilai keputusan itu kontraproduktif mengingat ketajaman Martinez sepanjang turnamen.
Dalam pernyataan resminya, Martinez menulis, "Kami sudah memberikan segalanya untuk memenangi Piala Dunia kedua secara beruntun, tapi kali ini bukan takdir kami. Saya sangat bangga menjadi orang ARGENTINA. Saya ingin membantu tim di lapangan, tapi tak apa-apa." Ia juga berterima kasih kepada suporter yang telah mendukung dari dekat maupun jauh.
Bagi Indonesia, kisah Martinez menjadi pelajaran tentang pentingnya manajemen pemain di turnamen besar. Timnas Indonesia, yang tengah membangun skuad untuk bersaing di level Asia, bisa mencontoh bagaimana Argentina mengelola pemain bintang seperti Martinez. Meski berstatus kapten Inter dan pencetak gol ulung, ia tetap harus menerima keputusan pelatih demi tim. Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan tim tidak bergantung pada satu individu, melainkan pada strategi dan chemistry seluruh pemain.
Martinez, dengan 40 gol dan 13 assist dalam 84 caps senior, telah memenangi Piala Dunia 2022 dan dua Copa America (2021 dan 2024). Catatan itu membuktikan kualitasnya sebagai salah satu striker terbaik dunia. Namun, kegagalan di final 2026 menyisakan pertanyaan: apakah Scaloni akan mempertahankan kepercayaannya pada Martinez di turnamen mendatang, atau justru beralih ke Julian Alvarez sebagai pilihan utama?



