Iran Nyatakan Perang Total dengan AS, Houthi Ancam Blokade Pelabuhan Saudi
Baca dalam 60 detik
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara resmi menyatakan negaranya berada dalam perang skala penuh melawan Amerika Serikat, menyusul gelombang serangan baru yang menewaskan tiga tentara AS.
- Houthi Yaman, sekutu Tehran, mengancam akan memblokade pelabuhan Yanbu di Laut Merah, mengancam jalur ekspor minyak alternatif Saudi dan berpotensi memicu krisis energi global.
- Korban tewas militer AS mencapai 17 orang sejak konflik dimulai, sementara Iran melaporkan 50 warga sipil tewas dan lebih dari 500 luka-luka dalam sepekan terakhir.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka mendeklarasikan bahwa negaranya tengah berperang habis-habisan dengan Amerika Serikat, menandai eskalasi dramatis dalam konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu. Pernyataan itu disampaikan Senin (20/7) di tengah serangan udara AS yang meluas hingga ke wilayah utara dan tengah Iran, serta meningkatnya aksi militer Iran terhadap sekutu-sekutu Washington di kawasan Teluk.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor kepresidenan, Pezeshkian menegaskan bahwa realitas saat ini adalah perang total antara Iran dan AS. Ia menyampaikan hal tersebut setelah otoritas setempat melaporkan serangan rudal dan drone AS yang menghantam sejumlah target di Iran utara dan tengah. Serangan itu merupakan bagian dari operasi sembilan malam berturut-turut yang diklaim sukses oleh Komando Pusat AS (CENTCOM).
Konflik yang sempat mereda setelah gencatan senjata singkat pada Juni lalu kini kembali memanas. Salah satu pemicu utamanya adalah sengketa kendali atas Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut seperlima pasokan minyak dunia di masa damai. Iran kembali memberlakukan blokade terhadap selat tersebut setelah gencatan senjata runtuh, sementara AS membalas dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ancaman baru muncul dari sekutu Iran di Yaman, kelompok Houthi, yang menyatakan akan memblokade pelabuhan-pelabuhan Saudi di Laut Merah. Langkah ini secara langsung mengincar Pelabuhan Yanbu, satu-satunya jalur ekspor minyak alternatif Riyadh setelah Selat Hormuz diblokade. Jika benar-benar diterapkan, blokade Houthi berpotensi memutus jutaan barel minyak per hari dari pasar global, mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi. Harga minyak mentah sendiri telah melonjak ke titik tertinggi dalam sebulan terakhir akibat ketegangan di Hormuz.
Houthi, yang telah lama berperang melawan koalisi pimpinan Saudi dalam perang saudara Yaman, sebelumnya tidak terlibat aktif dalam konflik Iran-AS. Namun, pekan lalu mereka dan Riyadh saling tembak-menembak untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, menandai eskalasi baru. Kelompok itu belum merinci bagaimana mereka akan menegakkan blokade tersebut, tetapi ancaman ini mengingatkan pada serangan mereka terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden selama perang Gaza.
Di Selat Hormuz, situasi semakin genting. Otoritas Maritim Inggris melaporkan adanya kapal yang ditinggalkan awaknya setelah terbakar akibat serangan. Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengklaim telah meledakkan dua kapal tanker minyak yang mencoba melintasi selat tersebut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak negara-negara lain untuk berbagi beban melindungi pelayaran global, namun ia juga mengakui masih berupaya mencapai solusi diplomatik.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik ini membawa risiko langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan minyak. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di jalur Hormuz atau Laut Merah akan berdampak pada harga BBM di dalam negeri dan beban subsidi energi. Selain itu, potensi meluasnya konflik ke kawasan Teluk dan Laut Merah dapat mengancam jalur perdagangan dan pengiriman barang, termasuk komoditas impor Indonesia dari Timur Tengah.
Diplomasi masih berlangsung di balik layar. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan bahwa pertukaran gagasan dengan mediator masih berlangsung. Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, dijadwalkan terbang ke Pakistan, yang selama ini berperan sebagai mediator. Namun, dengan korban jiwa yang terus bertambahโtiga tentara AS tewas dalam serangan di Yordania dan Irak akhir pekan laluโjalan menuju gencatan senjata tampak semakin terjal. Pertanyaannya, akankah diplomasi mampu meredam api perang yang telah dinyatakan secara terbuka, atau justru kawasan akan terjerumus ke dalam konflik yang lebih luas dan berkepanjangan?



