Messi Akui Luka Final Piala Dunia: 'Sakitnya Luar Biasa'
Baca dalam 60 detik
- Argentina kalah 1-0 dari Spanyol di final Piala Dunia, membuat Messi gagal mempertahankan gelar.
- Messi, yang kini berusia 39 tahun, kemungkinan besar tidak akan tampil di Piala Dunia 2030.
- Spanyol hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, menunjukkan dominasi pertahanan yang luar biasa.

Lionel Messi mengaku perih setelah Argentina harus menyerah 1-0 dari Spanyol di partai puncak Piala Dunia, Minggu (18/7) dini hari WIB. Gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu memupus harapan La Albiceleste untuk mempertahankan mahkota juara yang mereka rebut pada 2022.
Bagi Messi, kekalahan ini menjadi yang kedua di final Piala Dunia setelah sebelumnya Argentina ditaklukkan Jerman dengan skor identik pada 2014. Dari tiga final yang ia lakoni, hanya satu yang berakhir manis, yakni saat Argentina mengalahkan Prancis di Qatar tiga tahun lalu.
"Rasa sakit ini luar biasa, dan luka ini butuh waktu untuk sembuh. Tapi saya juga memegang semua hal baik yang terjadi," tulis Messi di media sosial. Ia menyebut perjuangan tim yang mampu membalikkan keadaan di beberapa laga, serta dukungan seluruh rakyat Argentina, menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Messi menambahkan, "Sulit untuk sepenuhnya menghargai pencapaian kami saat ini, tetapi grup ini berhasil mencapai dua final Piala Dunia berturut-turut. Terima kasih dari lubuk hati terdalam atas setiap ucapan dan pesan. Sekali lagi, kami berhasil menyatukan negara dan berdiri bersama, berbagi kebanggaan luar biasa menjadi orang Argentina."
Di usianya yang menginjak 39 tahun, Messi diprediksi tidak akan tampil pada Piala Dunia 2030 yang rencananya digelar di tiga negara: Maroko, Portugal, dan Spanyol. Hingga kini, ia belum mengumumkan masa depannya di tim nasional. Namun, jika ia pensiun, Argentina kehilangan ikon yang telah membawa mereka kembali ke papan atas sepak bola dunia.
Spanyol tampil dominan sepanjang turnamen. Tim Matador hanya kebobolan satu gol—sebuah penalti kontroversial di babak grup—dan menunjukkan pertahanan solid yang menjadi kunci keberhasilan mereka. Ferran Torres, yang menjadi pahlawan di final, mencetak gol semata wayang pada menit ke-105 memanfaatkan umung matang dari Pedri.
Bagi Indonesia, performa Spanyol bisa menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia yang tengah membangun fondasi sepak bola jangka panjang bisa meniru pendekatan Spanyol yang mengedepankan penguasaan bola dan disiplin taktik. Keberhasilan Spanyol juga menunjukkan bahwa regenerasi pemain muda bisa berjalan mulus jika sistem pembinaan berjalan baik—sebuah tantangan yang masih dihadapi Indonesia.
Messi, yang telah memberikan segalanya untuk Argentina, kini harus menerima kenyataan pahit. Namun, ia menegaskan bahwa kebanggaan menjadi bagian dari tim yang mampu bersaing di level tertinggi tetap tak tergantikan. Pertanyaan besarnya: mampukah Argentina bangkit kembali tanpa Messi di masa depan?



